Follow by Email

Pendekatan Intertekstual

MAKALAH
PENDEKATAN HUBUNGAN INTERTEKSTUAL
PADA KARYA SASTRA



FKIP









Oleh
Sri Sugiarto
E1C1080555











PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA NON REGULER
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2O10

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, karunia, serta berkah-Nya sehingga penulisan makalah yang berjudul “Pendekatan Hubungan Intertekstual” ini dapat terselesaikan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan.
Salawat serta salam semoga senantiasa selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan sahabat-Nya serta umat-Nya yang senantiasa selalu istiqomah di atas sunnah-sunnah serta ajaran yang beliau bawa sampai hari kiamat kelak.
Dalam penulisan Makalah ini, penulis dihadapkan oleh berbagai macam permasalahan, tetapi dengan adanya bantuan dan bimbingan terutama dari dosen mata kuliah Apresiasi Prosa Fiksi dan semua pihak sehingga makalah ini dapat kami rampungkan penulisannya.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan. Akhirnya semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang berkepentingan. 
Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Untuk mendapatkan makna sepenuhnya sebuah sajak, selain sajak harus diinsafi ciri khasnya sebagai tanda (sign), tidak boleh pula dilupakan pula hubungan kesejarahannya. Hal ini mengingat bahwa hanya sastra (disini sajak) tidak ditulis dalam situasi kekosongan budaya (Teeuw, 1980:11).
Suatu karya sastra kata-kata tidaklah mengacu pada benda- benda atau konsep atau secara umum tidak mengacu kepada dunia yang bukan kata-kata (non verbal).
Disini kata-kata mengacu kepada suatu jalinan pemunculan yang secra keseluruhan sudah menyatu dengan dunia bahas. Jalinan itu dapat berupa teks-teks yang telah dikenal atau pun bagian-bagian teks yang muncul setelah terlepas dari konteksnya dan yang dapat dikenali dalam konteksnya yang baru sehingga orang tahu bahwa teks tersebut telah ada sebelum ia muncul dalam konteks yang baru.
Karya sastra tidak lahir dalam kekosongan budaya (Teeuw, 1981:11), termasuk sastra. Karya sastra itu merupakan sebuah response (Teeuw, 1983:65) pada karya sastra yang terbit sebelumnya. Oleh karena itu, sebuah teks tidak dapat dilepaskan sama sekali dari teks yang lain. Sebuah karya sastra baru mendapatkan maknanya yang hakiki dalam kontrasnya dengan karya sebelumnya (Teeuw, 1983:66). Teks dalam pengertian umum adalah dunia semesta ini, bukan hanya teks tertulis atau teks lisan. Adat istiadat, kebudayaan, film, drama secara pengertian umum adalah teks. Oleh karena itu, karya sastra tidak dapat lepas dari hal-hal yang menjadi latar penciptaan tersebut, baik secra umum maupun khusus. Untuk dapat menemukan dan menafsirkan response itu adalah merupakan tugas pembaca (Teeuw, 1983:65), termasuk pembaca adalah peneliti sastra. Julia Kristeva (Culler, 1977:193) mengemukakan bahwa setiap teks itu, termasuk teks sastra, merupakan mosaik kutipan-kutipan dan merupakan penyerapan serta transformasi teks-teks lain. Secara khusus, ada teks tertentu yang menjadi latar penciptaan sebuah karya dis ebut hipogram oleh Riffaterre (1978:11,23), sedangkan teks yang menyerap mentransformasikan hipogram itu dapat disebut sebagai teks transformasi.  Untuk mendapatkan makna hakiki tersebut digunkan metode intertekstual, yaitu membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan sebuah teks transformasi dengan hiprogramnya.

1.2  Rumusan Masalah
Dari paparan latar belakang diatasdapat dirumuskan rumusan masalah dari makalah ini antara lain :
·        Bagaimana konsep /teori pendekatan  hubungan intertekstual?
·        Bagaimana prosedur kerja pendekatan  hubungan intertekstual?
·        Penerapan pendekatan  hubungan intertekstual dalam puisi maupun prosa

1.3  Manfaat
·        Makalah ini diharapkan dapat memberikan masukan guna menambah khasanah ilmu pengetahuan
·        Memberikan sambungan pemikiran berupa informasi yang dapat dijadikan sebagai acuan atau perbandingan bagi pemakalah selanjutnya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1        Konsep/Teori Pendekatan Hubungan Intertekstual
Kajian intertekstual dimaksudkan sebagai kajian terhadap sejumlah teks (lengkapnya: teks kesastraan), yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu. Misalnya, untuk menemukan adanya hubungan unsur-unsur intrinsik seperti ide, gagasan, peristiwa, plot, penokohan, dan gaya bahasa di antara teks-teks yang dikaji. Secara lebih khusus dapat dikatakan bahwa kajian interteks berusaha menemukan aspek-aspek tertentu yang telah ada pada karya-karya sebelumnya dan pada karya yang muncul kemudian.
Intertekstual yaitu membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan sebuah teks transformasi dengan hipogramnya.
Tujuan kajian interteks itu sendiri adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap  karya sastra. Penulisan dan pemunculan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsur kesejarahannya sehingga memberi makna secara lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan (Teeuw dalam Nurgiyantoro, 1995:50).
Masalah ada tidaknya hubungan antarteks ada kaitannya dengan niatan pengarang dan tafsiran pembaca. Dalam kaitan ini, Luxemburg (dalam Nurgiyantoro, 1995:50), mengartikan intertekstualitas sebagai : “kita menulis dan membaca dalam suatu ‘interteks’ suatu tradisi budaya, sosial dan sastra yang tertuang dalam teks-teks. Setiap teks bertumpu pada konvensi sastra dan bahasa dan dipengaruhi oleh teks-teks sebelumnya”.
Kajian intertekstual berangkat dari asumsi bahwa kapan pun karya tak mungkin lahir dari situasi kekosongan budaya. Unsur budaya, termasuk semua konvensi dan tradisi di masyarakat, dalam wujudnya yang khusus berupa teks-teks kesastraan yang ditulis sebelumnya. Dalam hal ini dapat diambil contoh, misalnya sebelum para penyair Pujangga Baru menulis puisi-puisi modernnya, di masyarakat telah ada berbagai bentuk puisi lama, seperti pantun dan syair, mereka juga berkenalan dengan puisi-puisi angkatan 80-an di negeri Belanda yang juga telah mentradisi.
2.2        Prosedur Kerja Pendekatan Hubungan Intertekstual
Adanya karya-karya yang ditranformasikan dalam penulisan karya sesudahnya ini menjadi perhatian utama kajian intertekstual, misalnya lewat pengontrasan antara sebuah karya dengan karya-karya lain yang diduga menjadi hipogramnya. Adanya unsur hipogram dalam suatu karya, hal ini mungkin disadari atau tidak disadari oleh pengarang. Kesadaran pengarang terhadap karya yang menjadi hipogramnya mungkin berwujud dalam sikapnya yang meneruskan, atau sebaliknya, menolak konvensi yang berlaku sebelumnya.
Prinsip intertektualitas yang utama adalah prinsip memahami dan memberikan makna karya yang bersangkutan. Karya itu diprediksikan sebagai reaksi, penyerapan, atau tranformasi dari karya-karya yang lain. Masalah intertekstual lebih dari sekadar pengaruh, ambilan, atau jiplakan, melainkan bagaimana kita memperoleh makna sebuah karya secara penuh dalam kontrasnya dengan karya yang lain yang menjadi hipogramnya, baik berupa teks fiksi maupun puisi. Misalnya, sebagaimana dilakukan oleh Teeuw (1983:66-69) dengan membandingkan antara sajak Berdiri Aku karya Amir Hamzah dengan Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar. Pradopo  membandingkan beberapa sajak yang lain dengan sajak-sajak Chairil, sajak Chairil dengan sajak Toto Sudarto Bakhtiar dan Ajip Rosyidi. Nurgiyantoro  juga mencoba meneliti hubungan interteks antara puisi-puisi Pujangga Baru dengan Pujangga Lama.
Adanya hubungan intertekstual dapat dikaitkan dengan teori resepsi. Pada dasarnya pembacalah yang menentukan ada atau tidaknya kaitan antara teks yang satu dengan teks yang lain itu. Unsur-unsur hipogram itu berdasarkan persepsi, pemahaman, pengetahuan, dan pengalamannya membaca teks-teks lain sebelumnya. Penunjukan terhadap unsur hipogram pada suatu karya dari karya-karya lain, pada hakikatnya merupakan penerimaan atau reaksi pembaca.
Prinsip intertekstualitas merupakan salah satu sarana pemberian makna kepada sebuah teks sastra (puisi). Hal ini mengingat bahwa sastrawan itu selalu menanggapi teks-teks sebelumnya. Dalam menanggapi teks-teks itu penyair mempunyai pikiran-pikiran, gagasan-gagasan, dan konsep estetik sendiri yang ditentukan oleh horison harapannya, yaitu pikiran-pikiran, konsep estetik dan pengetahuan sastra yang dimilikinya (Pradopo, 2002: 228-229).

2.3        Penerapan Pendekatan Hubungan Intertekstual Dalam Puisi dan Prosa
Berikut ini disajikan contoh hubungan intertekstualitas puisi ”Kusangka” Karya Amir Hamzah dengan puisi”Penerimaan’ ‘ Karya Chairil Anwar.
Amir Hamzah:
KUSANGKA
Kusangka cempaka kembang setangkai
Rupanya melur  telah diseri…..
Hatiku remuk mengenangkan ini
Wasangka dan was-was silih berganti.
Kuharap cempaka baharu kembang
Belum tahu sinar matahari…..
Rupanya teratai patah kelopak
Dihinggapi kumbang berpuluh kali.
Kupohonkan cempaka
Harum mula terserak…..
Melati yang ada
Pandai tergelak…..
Mimpiku seroja terapung di paya
Teratai putih awan angkasa…..
Rupanya mawar mengandung lumpur
Kaca piring bunga renungan…..
Igauanku subuh, impianku malam
Kuntum cempaka putih bersih…..
Kulihat kumbang keliling berlagu
Kelopakmu terbuka menerima cembu.
Kusangkau hauri bertudung lingkup
Bulumata menyangga panas Asmara
Rupanya melati jangan dipetik
Kalau dipetik menguku segera.
(Pradopo, 2002:232-233)

Chairil Anwar:
PENERIMAAN
Kalau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
(Pradopo, 2002: 233)

Puisi/sajak Chairil Anwar itu merupakan penyimpangan atau penolakan terhadap konsep estetik Amir Hamzah yang masih meneruskan konsep estetik sastra lama. Demikian halnya dengan pandangan romantik Amir Hamzah ditentang dengan pandangan realistis Chairil Anwar.
Keenam bait sajak “Kusangka” menunjukkan kesejajaran gagasan. Sesuai dengan zamannya, Amir Hamzah mempergunakan ekpresi romantik dengan cara metaforis-alegoris, membandingkan gadis dengan bunga. Pada bait terakhir dimetaforakan sebagai bidadari (hauri) dan merpati.
Berdasarkan keenam bait itu dapat disimpulkan bahwa penyair (si aku) mencintai gadis yang disangka murni, tetapi ternyata sudah tidak suci lagi karena sudah dijamah oleh pemuda-pemuda lain. Hal ini tampak pada bait /rupanya teratai patah kelopak / dihinggapi kumbang berpuluh kali / kulihat kumbang keliling berlagu / kelopakmu terbuka menerima cembu /.
Chairil Anwar dalam menanggapi gadis (wanita) yang sudah tidak murni lagi, sangat berlawanan dengan sikap Amir Hamzah. Ia tidak berpandangan realistis. Si ‘aku’ mau menerima kembali wanitanya (kekasihnya, isterinya) yang barangkali telah menyeleweng, meninggalkan si aku’ atau telah berpacaran dengan laki-laki lain, asal si wanita kembali kepada si aku hanya untuk si ‘aku’ secara mutlak.
Chairil Anwar mengekpresikan gagasannya secara padat. Untuk memberikan tekanan pentingnya inti persoalan, bait pertama diulang dengan bait kelima, tetapi dengan variasi yang menyatakan kemutlakan individualitas si ‘aku’. Dengan cara seperti itu, secara keseluruhan ekspresi menjadi padat dan tidak berlebih-lebihan.
Dalam penggunaan bahasa Chairil Anwar juga masih sedikit romantik. Hal ini mengingatkan gaya sajak yang menjadi hipogramnya. Ia membandingkan wanita dengan bunga (kembang). Wanita yang sudah tidak murni itu diumpamakan oleh Chairil Anwar sebagai bunga yang sarinya sudah terbagi / bak kembang sari sudah terbagi / yang dekat persamaannya dengan Amir Hamzah: / rupanya teratai patah kelopak / dihinggapi kumbang berpuluh kali /.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa secara keseluruhan Chairil Anwar mempergunakan bahasa sehari-hari dengan gaya ekspresi yang padat. Hal ini sesuai dengan sikapnya yang realistis (Pradopo, 2002: 232-235).
Sedangkan pada prosa dapat dicontohkan pada hubungan intertekstual pada novel Layla Majnun dan Novel Romeo and Juliet.

Synosis Novel Layla Majnun
KABILLAH bani Amir hidup di lembah HIjaz, Arabia diantara Makkah al-Mukarromah dan Madinah al-Munawwarah.Pimpinan kabillah itu adalah lelaki yang sudah uzur bernama Syed Omri. Walau sudah tua namun kekuasaan Syed Omri begitu disegani laksana kekuasaan seorang raja. Demikian besar pengaruh kewibawaan Syed Omri hingga namanya tersohor bukan hanya di negerinya sendiri tapi sampai ke negeri-negeri lain.Harta kekayaannypun melimpah ruah bak kekayaan nabi Sulaiman. Syed Omri memilki seorang putra bernama Qays yang memiliki wajah tampan dan suaranya merdu bagai bulu peindu.
Suatu hari Syaid Syaid Omri menitipkan putra kesayangannya kepada seorang guru yang bijaksana dan penyabar yang pada saat itu merupakan guru terbaik diseluruh jazirah Arab. Maka tak heran jika para bangsawan menitipkan anak-anaknya di sekolah itu.
Diantara anak-anak dari berbagai Kabillah, terlihat seorang gadis cantik berusia belasan tahun. Wajahnya anggun mempesona, lembut sikapnya, dan penampilannya sangatbersahaja. Gadis yang menjadi buah bibir itu bernama Layla. Qays sendiri sejak pertama kali melihat pancaran cahaya keindahan itu, jiwanya langsung bergetar. Ia seperti merasakan bumi berguncang dengan hebat., hingga merobohkan sendi-sendi keinginannya untuk menuntut ilmu. Keharuman cinta telah menghancurkan ketenangan pikirannya. Gejolak gairah cinta dalam jiwa membuatnya kehilangan akal sehat, hingga lupa belajar dan lupa makan.
Qays tidaklah menggantang asap, bertepuk sebelah tangan. Layla sudah tertarik padaQays sejak pertama kali berjumpa. Gadis itu melihat pesona yang memabukkan pada diri Qays. Baginya Qays seperti gelas minuman, semakin dipandang semakin haus. Cinta sudah mengakar dalam hati keduanya, tetapi mereka tidak ingin orang lain mengetahui hubungan itu. Dari waktu ke waktu cinta tumbuh subur dan berbunga harum didalam taman hati Qays dan Layla. Saatyang lain berpikir dan berusaha keras agar menjadi orang hebat, dua kekasih itu hanya berpikir tentang cinta. Bagi mereka pengetahuan tidak lagi menarik untuk dibanggakan. Keduanya tidak menyadari jika kisah asamara mereka mulai menjadi nahan gunjingan. Angin berhembus membawa kisah asmara pada keluarga sigadis. Kabar iru bagai arang hitam yang membuat bani Qhatibah  tersinggung, harga dirimereka ternoda. Hanya ada satu cara untuk menghilangkan rasa maluyaitu mengurung Layla didalam rumah, tidak boleh ke eolah atau bertemu teman-temannya.
Setelah Qays menyadari bahwaLayla dipingit orang tuanya, muncul rasa penyesalan karena tidak mampu menyimpan rapatrahasiamereka. Qaysmenjadi gelisah, tak sekejappun ia sanggup memejamkan mata. Ia pun berlari mendekati rumah Layla dengan mengendap-ngendap. Bila sudah mendekati rumah Layla, ia mencium dinding rumah Layla derai air mata membasahi pipi. Baginya meskipun tidak bertemu engan Layla maka mencium dinding rumahnya punsudah cukup untuk merasakan kebahagiaan. Seolah-olah dinding adalah tubuh Layla.
Dia terus menyebutnama gadis yang telah memnjarakan hatinya, namun teriakannya hanya menggema di cakrawala. Rupanya ulah Qays yang selalumenyebut nama Layla dianggap telah mencemarkan nama gadis itudan keluarganya. Bagaimana tidak hancur hati orang tuanya jika anak gadis yag menjadipermata seluruh kabillah disebut oleh orang gila dan menjadi tertawan masyarakat. Akhirnya karena tidak tahan dipermalukan, keluarga Layla sepakat untuk pindah ke lembah Nedj. Disana keluarga Layla merasakan ketentraman. Beda dengan Layla tetap tidak merasakan ketentraman, justru semakin tersiksa. Hasrat nyala dalam hati agar dapat berjumpa dengan pujaan hati dambaan kalbu.
Getar perasaan Layla terhubung ke Qays. Bila Layla semakin menderita. Maka Qays lh yang semakin sengsara. Sekarang ia sudah mulai mninggalkan ruma, hidup sendirian di padang pasir yang gersang. Pagi hari saatfajar mulaimerekah benar Qays berjalan dengan tergesa-gesa menuju gurun, berkelana sendirian dan hidup di hutan belantara yang berbahaya. Ia ingin mengadukan nasibnya karena menurutnya hanya batuan lembah yang mengerti isi hatinya. Semua orang banyk membicarakan ulah Qays bahkan ia dianggap lupa ingatan bahkan sudah gilanamun ia tidak mempedulikan perkataan orang itu.
Tiba-tiba pandangan Qays menuju ke salah satu sudut rumah, Layla dilihatnya disana. Air mata bahagia menetes dijanggut Qays. Layla pun melihatnya tapi tak mengnali Qays yang berpenampilan seperti pengemis. Ia terkejut karena sosok yang tampak seperti pengemis itu adalah Qays kekasih hatinya. Tampak sekali perbedaan antara Layla dengan qays disana. Layla yang bagaikn sekuntum mawar segar berbeda dengan Qays yang berpenampilan seperti orang gila.
Dengan melihat timgkah laku Qays yang sangat memprihatinkan maka ayah Qays memutuskan untuk meminang Layla untuk kesembuhan putra kesayangannya itu yang dianggap gila oleh masyarakat setempat. Setelah ayah Qays bertemu dengan ayah Layla mereka pun mengadakan suatu pembicaraan.Tetapi karena ada suatu perkataan ayah Qays yang sangat menyinggung perasaan ayah Layla maka lamaran itupun ditolak.
Setelahupaya meminang Layla hanya membuahkan sait hai maka ayah Qays mmmambujuk anaknya untuk melupkan gadis itu. Tapi Qays malah pergi dari rumah karena baginya tidak ada yang mengerti perasaannya. Ia mangarungi gunung dan hutan. Dalam perjalanannya ia bertemu dengan seorang pemuda bernama Naufal. Pemuda tu adalah seorang pemberni dan seorang pemburuh. Ia jugaseorang kesatria dalam peperangan. Qays pun mulai bersahabat dengan Noufal. Noufal terus membimbing Qays dan setelah itu ada sedikit perubahan pada diri Qays. Qays selalu mencurahkan keluh kesahnya pada Noufal.Noufal sebisa mungkin membantu sahabatnya itu dalam mengatasi masalahny. Tetapi hasilnya selalu nihil.
Suatu hari Lyla dilamar oleh seorang pemuda yang bernama Ibnu salam.Mereka pun melangsungkan pernikahan. Mendengar kabar pernikahan Layla jiwa Qays seperti kapas yang tertiaup angin. Dia merasa kesitiaan dan pengorbanannya dibalas dengan penghianatan. Rasa sedih pun semakin bertabah ketika ia mendengar kabar ketika mendengar kabar bahwa ayahnya meninggal dunia karena memikirkannya, dia menyesal karena menyia-nyiakan banyak waktu tanpa memikirkan keluarganya.
Dengan kejadian itu Qays tak lantas melupakan Layla apalagi ketika suatu hari ia bertemu dengan seorang laki-laki yang bernama Ishaq yang menyampaikan salam Layla kepadanya. Laki-laki itu menjelaskan kalau Layla tak seperti yag ia pikirkan. Perasaan Qays pun bangkit kembali.
Suatu hari suami Layla meninggal karena suatu penyakit. Kini Layla menjadi janda. Suatu ketika ia bertemu dengan Qays kekasih hatinya dahulu. Alangkah bahagianya Qays setelah melihat Layla setelah sekian lamaia tidak bertemu denga pujaan hatinya itu. Senyumnya pada Layla semakin mengerikan karena gejolak hati yang ia rasakan. Ia pun merobek apa yang dipakainya dan berlari sambil berteriak. Alangkah sedihnya Layla ketika ia bertemu dengan sosok Qays yang tampak mengerikan itu.  Sejak peristiwa itu wajah Layla yang lembut selalu menampakkan kebimbangan.Sekarang ia semakin tenggelam oleh beban kehidupan. Tubuhnya yang kurus sudah tidak mampu menopang kesedihan yang demikian berat. Tapi sebelum ajal menjelang, ia masih menyisakan sebuah harapan.Ia sangat mendambakan sepeninggalannya dendam dan amarah Bani Qhatibah tidak sampai mencelakakan Qays. Ia rela mati asal kekasihnya bahagia. Ditengah keputusasaan dan rasa sakit yang mencekam Layla masih ingin melindungi kekasihnya yang gila dan liar. Sebelum Layla menghembuskan nafas terakhirnya ia ber.esan kepada ibunya agar memaafkan kesalahannya dan Qays kekasih hatinya. Mendengar kematian Layla qas pun semakin mronta, menangis, berteriak serta berlari menelusuru hutan, gurun sambil berteriak. Setelah sampai di pemakaman Layla. Ia pun tersungkur jatuh dan mencium pusara Layla beribu-ribu kali. Sampai akhirnya ia pun meninggal.

Synopsis Novel Romeo and Juliet
   Alkisah di kota Verona Beach hiduplah dua keluarga besar yaitu keluarga montague dan Capulets. Kedua kelurga ini adalah musuh berbuyutan sejak puluhan tahun lalu. Perang antara dua keluarga tersebut yang berkecimpung diduniakriminal itu membuat pusing pihak kepolisian Verona Beach pimpinan Kapten Prince karena tidak bisa menikmati kedamaian dan ketenangan seperti seharusnya.
Perang antar keluarga itu ternyata tidak menghalangi salah satu anggota keluarga Montague, yaitu Romeo Montague (Leonardo DaVinci) untuk mengikuti pesta yang diselenggarakan oleh Flugencio Capulet (Paul Sorvino). Rupanya Romeo menyukai kemenakan Flugencio, Rosaline sehingga mau hadir ke pesta keluarga musuhnya. Namun pada saat Romeo berada di pesta itu, ia melihat seorang gadis cantik. Seketika ia langsung jatuh cinta pada gadis cantik yang ternyata bernama Juliet (Claire Danes). Begitupula Juliet yang juga langsung dimabuk cinta dalam pandangan pertama terhadap Romeo.
Sayangnya pada saat itulah, Romeo dan Juliet menemukan mereka tidak akan bisa berjodoh karena keluarga mereka saling bermusuhan. Ternyata Juliet adalah anak anggota klan Capulet. Tetapi cinta memang aneh karena mampu membuat mereka menjadi nekad. Mereka langsung memutuskan kawin lari. Tetapi Tybalt (John Leguizamo) melihat Romeo di pesta dan berusaha membalas dendam keluarganya. Ketika Tybalt hendak membunuh Romeo, namun pisaunya mengenai teman karib Romeo, Mercutio (Harold Perrineau) sehingga tewas. Romeo lalu bertekad membalas dendam pada Tybalt dan keluarga Capulet.mati.
Romeo pun membunuh Tybalt dan ia ditangkap lalu diasingkan dari Verona ke kota Mantua. Sejak pristiwa pengasingan Romeo, Juliet sangat terpukul karenaharus berpisahdengan kekasihnya Romeo. Akhirnya ia memutuskan untuk pura-pura mati agar bisa terbebas dari keluarganya. Kabar Juliet telah tiada kini berhembus sampai ke telinga Romeo. Ia pun berontak dan mencari tempatpemakaman Juliet. Sesampainya dipemakaman Juliet, ia melihat Juliet tampak cantikdengan gaun putihnya didalam peti.Tak tertahan lagi rasa sedihnya, ia pun memeluk pusaranya Juliet dan ia memilih minum racun didepan mayatnya Juliet.
Juliet terbangun da melihat Romeo sudah tidak bisa diselamatkan gara-gara dirinya. Ia pun ikut meminum racun untukikut bersama Romeo.
Jiwa seorang pencinta yang demikian rumit, berliku an susah dipahami merupakan kunci pembeda antara kisah Layla Majnun dengan Romeo and Juliet. Dalam cerita Romeo and Juliet tidak digambarkan problem kejiwaan pecinta secara mendalam. Karya Shakespeare itu hanya melihat cinta dari sisi dhahir, seperti keampanan Romeodan kecantikan Juliet. Digambarkan penggambaran fisik jelas menggambarkan peradaban barat yang kering. Berbeda dengan penggambaran tokoh Majnun(Qays) yang sedemikian besar didominasi oleh perasaan jiwa dan diungkapkan dalam syair. Kisah Romeo dan Juliet terilhami dari kisah Layla Majnun. Hal yang jelas dan tidak bias dibantah adalah kisah Layla Majnun yang ditulis Nizami jauh lebih dahulu daripada cerita Romeo dan Juliet. Nizami menulis Layla Majnun tahun 1188, sedang Shakespeare menuis Romeo and Juliet tahun 1595. Maka dugaan Romeodan Juliet diilhami dari kisah Layla Majnun walau masih perlu dikaji lebih jauh.
   Secara umum ada beberapa hal yang bisa dilihat sebagai persamaan dari kedua roman itu.Dalam hal tema, jelas tampak persamaan yaitu, kedua tokoh utama cerita yang berupa sepasang kekasih itu terikat dalam tradisi keluarga.Gairah cinta antara kedua kekasih juga demikian besar  dan tak terbendung. Dalam kisah Layla Majnun cinta dijabarkan sebagai rasa sakit yang menyebabkan penderitaan sebanding dengan kebahagiaan. Sementara dalam Romeo and Juliet cinta merupakan sumber harapan.
   MenurutHekmatada gaya bahasa yang kuat antara dua kisah ini. Hal ini bisa dilihat dari keluhan Majnun dan Romeo ketika berpisah dengan layla serta Juliet.
Dalam hal alur menurut Hekmat juga terjadi kesamaan antara lain :
·        Baik Qays maupun Romeo sama-sama melakukan perjalanan menuju pengasingan. Namun perjalanan Majnun berbeda fungsinya dengan perjalanan Romeo. Kepergian Majnun dari kota menuju gurun pasir dan menyendiri menggambarkan sebuah perjalanan untuk menemukan kesejatian cinta. Pengasingan Romeo dari Verona ke kota Mantua tampak sederhana dan demi kepentingan alur yaituuntuk memastikan bahwa Romeo tidak akan menerima pesan Juliet yang menjelaskan iahanya mati pura-pura.
·        Keduanya mengisahkan kematian pencinta pada akhir kisah tanpa mencapai pertemuan bahagia di bumi. Namun Layla Majnun mati karena dan dalam perpisahan. Sementara Romeo dan Juliet terbawa takdir dalam pembunuhan beruntun.
·        Sama-sama mempunyai teman yang mendukung mereka untuk dapat hidup bersama, Naufal (Laila-Majnun) dan Friar Laurence (Romeo_Juliet)

Dalam kedua roman ini juga ditemui beberapa perbedaan, antara lain dalam hal tindak kekerasan dan pengagungan penampila fisik.
·        Nizami menggambarkan secara detail kisah cinta, dari awal pertemuan hingga kerumitan-kerumitan yag menghadang. Dan menggambarkan bagaimana kondisi pencinta apabila tanpa keberadaan orang yang dicintai. Mereka akan kehilangan semua ketenangan pikiran dan terluka. Sementara Shakespeare menceritakan perselisihan kuno dari dua klan, yang harus dibayar dengan darah Romeo dan Juliet. Kisah dua remaja itu didongengka dengan romantic dan dramatis.
·        Romeo dan Juliet sangat kental dengan kekerasa. Awal cerita kita sudah disuguhi dengan pembunuhan, Tybalt memunuh Marcutio dan Romeo membalasdendam dengan membunuh Tybalt. Sedangcerita Layla Majnun diawali dengan sebuah dunia yang tenang dan damai.

2.4        Kelemahan Teori Intertekstual
Kelemahan teori intertekstual adalah sifatnya yang mem-fait accompli pengarang. Setiap pengarang yang melahirkan karya yang topiknya (dianggap) sudah pernah ditulis oleh pengarang sebelumnya (karya transformatif) dianggap telah membaca karya pendahulunya (karya hepigram). Padahal dugaan itu belum tentu benar. Pengarang yang membuat karya sastra yang dianggap karya transformastif belum tentu telah membaca karya hipogramnya. Dengan dugaan seperti itu, analisis yang dilakukan adalah mencari sejauh mana karya transformatif itu dipengaruhi oleh karya hepigramnya. Atau, sejauh mana penyimpangan yang dilakukan oleh pengarang karya transformartif dari karya hepigramnya. Hal yang bersifat spekulatif itu harus menjadi pegangan dasar dari para peneliti yang menggunakan teori intertekstual. Sifat fait accompli seperti itu tentulah tidak adil. Kecuali apabila pengarangnya mengakui bahwa karyanya merupakan transformasi dari karya sebelumnya yang sejenis.



BAB III
PENUTUP

Simpulan
Dari uraian singkat di atas, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
·        Pendekatan intertekstualitas adalah “teknik” penelitian sastra yang dilakukan dengan cara membandingkan, mensejajarkan, dan mengkontraskan antar karya.
·        Hubungan intertekstualitas dalam perkembangan dan dinamika sastra Indonesia merupakan sesuatu hal yang tidak terhindarkan; bahkan sebagimana dikemukakan Riffaterre, sebuah sajak (karya sastra) baru bermakna penuh ketika dalam hubungannya dengan sajak yang lain.
·        Hubungan intertekstualitas antar karya dimaksudkan untuk menemukan nilai hakiki karya sastra denga jalan (a) membandingkan, (b) menjajarkan, dan (c) antara sebuah teks transformasi dengan hipogramnya.
·         Melalui pendekatan hubungan intertekstuaitas ini akan dapat diketahui kualitas sastra di satu sisi.








DAFTAR PUSTAKA

Ganjavi, Nizami. 2007. Laiyla Majnun. Surakarta : Babul Hikmah.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta :      Gadjah Mada Universiyt Press.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar