Follow by Email

Baunyale

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Bau Nyale merupakan salah satu khazanah sastra lisan suku Sasak yang berbentuk prosa yang sampai sekarang ini masih dianggap relevan dengan perkembangan zaman seperti pada kehidupan sosial masyarakat Sasak sekarang ini. Cerita ini lahir, hidup, dan berkembang sejalan dengan peradaban masyarakatnya dan dilandasi oleh kepercayaan masyarakat setempat. Kepercayaan tersebut sangat mendarah daging pada masyarakat setempat dan karenanya cerita tersebut kemudian diwariskan secara turun-temurun secara lisan dengan cara mendongengkannya kepada anak cucu. Bahkan pada perkembangan pada sekarang ini, cerita Bau Nyale disajikan dalam bentuk pementasan drama panggung atau teater tradisional yang dipentaskan pada saat-sasat tertentu.
Cerita Mandalike Nyale atau Bau Nyale secara umum sangat dikenal di Pulau Lombok. Cerita ini tidak hanya memberikan kesenangan dan menghibur para penikmatnya, melainkan juga mengandung pesan moral berupa ajaran moral bagi masyarakat Suku Sasak untuk selanjutnya dijadikan pegangan hidup dalam kehidupan sehari-hari dalam hubungannya dengan interaksi antar sesama warga masyarakat khususnya di kalangan masyarakat Suku Sasak.
Lebih lanjut, pada pelaksanaan upacara Bau Nyale, upacara tersebut juga diambil dari cerita rakyat Mandalika Nyale yaitu tradisi Bau Nyale yang pada saat itu dipentaskan cerita rakyat Mandalika Nyale. Cerita Mandalika Nyale tersebut dipentaskan dalam bentuk drama panggung terbuka. Pada jalinan peristiwa dalam cerita rakyat tersebut, sesungguhnya terdapat struktur yang membangun cerita dan di balik cerita tersebut terkandung fungsi cerita tersebut bagi pembacanya, yang sudah barang tentu perlu dikaji lebih lanjut misalnya melalui penelitian yang hasilnya diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat Sasak dalam rangka lebih memahami isi cerita dan manfaatnya bagi kehidupan mereka.
Meskipun “Mandalika Nyale” masih hidup dalam masyarakat Sasak, kita perlu menyadari bahwa keberadaan Bau Nyale (Mandalka Nyale) bersifat lisan dan diwariskan secara lisan pula. Melihat keadaan yang demikian, bisa saja Bau Nyale tersebut secara perlahan-lahan dilupakan orang khususnya masyarakat Sasak sendiri. Hal ini, disebabkan karena pengaruh globalisasi arus informasi yang dewasa ini keberadaannya lebih diminati generasi muda daripada hal-hal lain yang bersifat tradisional seperti halnya cerita rakyat.
Adanya kemungkinan Bau Nyale akan mulai dilupakan generasi penerus atau akan punah di masa mendatang, kita perlu memperhatikan dan memikirkan upaya nyata agar Bau Nyale tetap hidup dan dihayati oleh masyarakat pemiliknya, khususnya masyarakat Sasak. Salah satu upaya untuk melestarikan Bau Nyale adalah melalui penelitian misalnya yang mengkaji struktur dan fungsi cerita rakyat Bau Nyale. Hasil penelitian itu diharapkan dapat dimanfaatkan oleh lembaga penelitian sebagai bahan pengajaran atau sebagai bahan sosialisasi struktur dan fungsi cerita rakyat Bau Nyale terhadap masyarakat Sasak, sehingga masyarakat Sasak lebih mudah memahami ataupun mengapresiasi isi dan kandungan cerita rakyat Bau Nyale. Untuk memenuhi maksud tersebut, maka Bau Nyale perlu diteliti dari aspek struktur dan fungsinya.
 Upaya untuk melakukan studi struktur dan fungsi cerita rakyat Mandalika Nyale tersebut juga didasarkan atas amanah GBHN mengenai upaya mencegah kepunahan asset sejarah dan sastra seperti tercantum dan telah ditetapkan dalam GBHN 2005 sebagai berikut: “ Nilai, tradisi, dan peninggalan sejarah, yang memberikan corak khas pada kebudayaan bangsa, serta hasil pembangunan yang mengandung nilai kejuangan, kepeloporan, dan kebanggaan nasional perlu terus digali, dipelihara, serta dibina untuk memupuk semangat perjuangan dan cinta tanah air (Bina Pustaka Utama, 2005: 100).
Atas dasar uraian di atas, pada kesempatan ini hendak diteliti Struktur dan Fungsi Sastra Lisan Sasak Mandalika Nyale.

 B. Perumusan Masalah
Sampai sekarang ini, sastra lisan Sasak yang tersebar luas di masyarakat Sasak, belum diketahui secara pasti identitas, jumlah dan bagaimana eksistensinya di tengah kehidupan masyarakat. Salah satu sastra lisan sasak itu adalah cerita rakyat Mandalika Nyale. Tanpa adanya penelitian yang komprehensif terhadap struktur dan fungsi kesusasteraan lisan Sasak yang salah satunya berupa cerita rakyat Mandalika Nyale di Lombok maka dikhawatirkan di masa yang akan datang akan menambah ketidakjelasan mengenai struktur dan fungsi kesusasteraan lisan Sasak.
Sesuai dengan latar belakang masalah dan fenomena di atas maka masalah yang hendak diungkap dalam penelitian ini, yaitu:
1.      Bagaimanakah struktur Cerita Rakyat Mandalika Nyale?
2.      Apakah fungsi Cerita Rakyat Mandalika Nyale dalam masyarakat Lombok ?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Penelitian mengenai sastra lisan di Lombok pernah diteliti oleh Jahiban dan Sapiin tahun 1995 mengenai dongeng etnis Sasak dengan judul Dongeng Etnis Sasak dan Aspek Pendidikan Moralnya, yang merupakan penelitian Dosen Muda dibiayai Ditjen Dikti; Efendi dan Intiana, tahun 1996 tentang Takhayul Sasak dengan judul Aspek Pengendalian Sosial dalam Takhayul Sasak dan Mari’i. pada tahun 1997 meneliti Pantun Sasak Lelakaq dengan judul  Resepsi Masyarakat terhadap Foklor Lisan Sasak Leakaq yang merupakan penelitian dosen muda dibiayai Ditjen Dikti di FKIP Universitas Mataram.
Adapun penelitian terhadap foklor lisan berupa prosa  berbentuk cerita rakyat yang disampaikan secara lisan dan yang dipentaskan dalam bentuk drama seperti Mandalika Nyale sepengetahuan peneliti belum dilakukan. Sejalan dengan itu, pada kesempatan ini akan diteliti struktur dan fungsi cerita rakyat Sasak Bau Nyale atau Mandalika Nyale. Kajian struktur dan fungsi cerita rakyat Sasak Bau Nyale atau Mandalika Nyale diharapkan dapat mampu mengungkap secara utuh terhadap struktur pada seluruh jalinan cerita rakyat Bau Nyale disertai fungsi cerita rakyat tersebut di  masyarakat pendukungnya yaitu pada suku Sasak di Pulau Lombok.


B.  Struktur Karya Sastra
Sebuah karya sastra, tidak terkecuali prosa, menurut Pradopo (1987: 118-119) merupakan suatu struktur. Dalam struktur itu, terdapat  unsur-unsur yang saling berkaitan dan saling menentukan. Selanjutnya, Piaget (1995: 3) menjelaskan bahwa suatu struktur terdapat tiga hal: totalitas, transformasi, dan pengaturan diri. Pengertian struktur menurut Piaget (1995: 3) adalah system transformasi yang mengandung kaidah sebagai sistem, dan yang melindungi diri atau memperkaya diri melalui peran transformasi-transformasinya itu, tanpa keluar dari batas-batasnya atau menyebabkan masuknya unsure-unsur luar. Sejalan dengan itu, Hoed  ( 1995: ix) menambahkan bahwa struktur adalah bangunan yang terdiri atas berbagai unsur yang satu sama lain saling berkaitan.
Mengkaji sebuah karya sastra secara struktural berarti kita mengkaji unsur-unsur pembentuknya dalam kaitan satu sama lain. Dalam hal ini, Todorov (1985: 11-12) menjelaskan bahwa kajian sastra ada tiga aspek: aspek sintaksis, aspek semantik, dan aspek verbal. Pada aspek sintaksis, peneliti sastra akan mengkaji hubungan antara unsur-unsur yang hadir secara bersama-sama yaitu hubungan konfigurasi dan hubungan konstruksi. Pada kajian sintaksis ini, kajian akan difokuskan  pada kajian bentuk kalimat yang digunakan, baik dalam bentuk kalimat tunggal maupun dalam bentuk kalimat majemuk yang terdapat pada tuturan dan naskah sastra lisan dan tulis. Penggunaan bentuk kalimat ini, selanjutnya dihubungkan dengan makna.
Todorov (1985: 11-12) selanjutnya menjelaskan bahwa pengkajian dalam aspek semantik dilakukan dengan melihat hubungan makna dengan perlambangan yang ada dalam karya sastra, baik lisan maupun tulis. Selanjutnya, Todorov (1985: 13) menjelaskan bahwa masalah semantik ada dua, yaitu formal dan substansial. Masalah formal berkaitan dengan bagaiamana teks sastra mengemukakan makna, yang mencakup makna asli dan makna kiasan teks; sedangkan masalah substansial  berkaitan dengan apakah makna teks sastra itu (membicarakan kebenaran makna teks).
Makna asli dan makna kiasan dalam konsep Todorov itu, tampaknya hampir sama dengan makna denotasi dan konotasi, serta majas. Oleh sebab itu, dalam bagian semantik itu akan dibicarakan denotasi, konotasi, dan majas.
Denotasi adalah arti kata secara harfiah, hubungan antara kata dengan denotatanya, sedangkan konotasi adalah asosiasi pikiran yang menimbulkan nilai rasa  (Moeliono, 1982: 139). Adapun, Majas adalah peristiwa pemakaian kata yang melewati batas maknanya yang lazim atau menyimpang dari arti harfiahnya dan berfungsi mengkonkretkan dan menghidupkan karangan (Sudjiman, 1990: 50; Moeliono, 1982: 141). Menurut Moeliono (1982: 141) dan Lexemburg dkk. (1989: 84) ada tiga macam majas yaitu: majas perbandingan, majas pertentangan, dan majas pertautan.
Khusus dalam genre sastra berbentuk prosa, menurut Nurgiantoro (2000: 5-31) bisa dikaji dari tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, amanat, imaji, dan sudut pandang. Selanjutnya, juga ditambahkan bahwa kajian struktur bias juga melalui kajian ekstrinsik karya sastra yang meliputi ideologi, politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, dan sebagainya.
Aspek terakhir yang dibahas dalam kajian struktural karya sastra adalah aspek verbal. Todorov (1985: 25-37) menjelaskan bahwa aspek verbal meliputi modus, kala, sudut pandang, dan penuturan. Akan tetapi dalam penelitian ini hanya akan dikaji dua aspek verbal dalam karya sastra yang akan diteliti baik sastra lisan maupun tulis yaitu sudut pandang dan penuturan. Dalam hal ini, sudut pandang yaitu cara menyapaikan karangan akan dilihat dari sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang kedua, atau sudut pandang orang ketiga, dan sebagainya dalam mengurai penceritaannya. Begitu juga akan dilihat masalah penuturan yaitu cara menyampaikan teks oleh penutur yang dibatasi pada pembicara, pendengar, dan teknik pengungkapannya.
Pembicara dalam sastra lisan juga sebagai pendegar. Pendengar itu beraneka ragam, ada yang eksplisit dan ada yang implicit, dapat berupa manusia atau Tuhan (Luxemburg dkk., 1989: 77-78). Teknik pengungkapan dalam sastra lisan ada yang langsung dan ada yang tidak langsung.

C.  Fungsi Karya Sastra
Menurut Danandjaya (1975: 80) bahwa fungsi karya sastra adalah kegunaan seni sastra dalam masyarakat yang menyebabkan masyarakat terlibat dalam karya seni sastra. Menurut William R. Bascom (dalam Danandjaya 1984: 1-15) bahwa sastra sebagai bagian dari foklor berfungsi antara lain: sebagai sistem proyeksi atau alat pencerminan angan-angan suatu kolektif; sebagai alat pengesahan pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan; sebagai alat pendidikan anak; sebagai alat pemaksa dan pengawas norma-norma masyarakat. Di samping itu, karya sastra dapat berfungsi untuk mempertebal perasaan solidaritas suatu kolektif, memberikan suatu alat yang dikenakan oleh masyarakat agar ia dapat bersikap lebih superior daripada orang lain dan memberikan suatu cara yang dibenarkan oleh masyarakat agar ia dapat mengendalikan orang lain, sebagai system proyeksi, alat pengetahuan kebudayaan. Selanjutnya, Danandjaya (1984: 49-50) secara khusus menyoroti fungsi sastra lisan yang berfungsi sebagai: (1) alat kendali sosial; (2) untuk hiburan;           (3) untuk memulai suatu permainan; dan (4) untuk menekan dan mengganggu orang lain.
Selanjutnya, menurut Teew (1983) bahwa sastra berfungsi sebagai (1) afirmasi, pendukung norma sosial budaya; (2) restorasi, pengungkap keinginan pada norma yang sudah hilang; dan (3) negasi, yaitu sebagai pemberontakan terhadap norma.

D.  Hakikat Cerita Rakyat
Cerita prosa rakyat adalah foklor lisan yang berbentuk prosa, disampaikan secara lisan dengan tutur kata dan diyakini oleh masyarakat pemiliknya secara turun-temurun.
Menurut William R. Bascom cerita prosa rakyat dapat dibagi menjadi tiga golongan besar yaitu mite (myte), legenda (legend), dan dongeng (falktale).
Mite adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap seuci oleh empunya cerita. Mite ditokohi atau (penokohan) dalam mite biasanya menampilkan tokoh-tokoh dewa atau makhluk setengah dewa dan pelaku atau makhluk-makhluk pendukung cerita dalam peristiwa yang terjadi di dunia lain atau dunia yang kita kenal sekarang ini, atau yang terjadi pada masa lampau.
Legenda adalah prosa rakyat yang memiliki ciri-ciri yang hampir mirip dengan mite, yaitu dianggap benar-benar pernah terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Penokohan dalam legenda  adalah seorang manusia yang wataknya memiliki sifat-sifat yang luar biasa yang bisa diteladani dan sering kali juga dibantu oleh tokoh-tokoh lain yang dalam hal ini bisa berupa makhluk ajaib. Tempat terjadinya sebuah legenda adalah dunia yang kita kenal sekarang ini, terjadi pada masa lampau. Legenda masih bersifat sekunder.
Selanjutnya, dongeng adalah prosa rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi oleh empunya cerita, tidak terikat oleh waktu maupun tempat (Bascom dalam Danandjaya, 1991: 50).
Cerita rakyat merupakan salah satu kebudayaan dalam dunia kesusasteraan, khususnya dalam sastra lisan. Melihat tokoh yang ditampilkan dalam cerita prosa rakyat yang biasanya menampilkan tokoh-tokoh dewa, tokoh manusia yang luar biasa, menyajikan suatu yang indah-indah dan menampilkan dunia yang di luar jangkauan manusia, mengisahkan tentang kejadian di masa lampau yang tidak dijumpai pada masa sekarang.





BAB III
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan mengenai:
1.  Struktur Cerita Rakyat Mandalika Nyale;
2. Fungsi fungsi Cerita Rakyat Mandalika Nyale dalam masyarakat Lombok, dan
3.  Inventarisasi

B. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah untuk :
1. Membantu masyarakat dalam memahami struktur cerita rakyat “Bau Nyale” di Lombok, dan
2. Membantu masyarakat dalam mengenali fungsi apa saja yang terkandung dalam cerita rakyat “Bau Nyale.  
BAB IV
 METODE PENELITIAN
Penelitian ini akan dilakukan dengan terlebih dahulu menginventarisasikan berbagai tuturan cerita rakyat Mandalika Nyale / Bau Nyale, yang kemudian diikuti dengan kajian struktur dan fungsi pada cerita rakyat Sasak tersebut. Oleh karena itu, teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mendukung kegiatan tersebut, yaitu: metode wawancara dan studi kepustakaan yang diikuti dengan kegiatan pencatatan. 
A. Pemilihan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Lombok Tengah, tepatnya di Pantai Kuta Kecamatan Sengkol. Penentuan daerah sebagai lokasi penelitian ini didasarkan atas pertimbangan bahwa penduduk di tempat (sekitar pementasan dan perayaan Bau Nyale / Mandalika Nyale) sudah sangat akrab dengan pesta pantai tersebut yang menyertakan pementasan cerita rakyat tersebut.
Penentuan daerah sampel itu dilakukan atas pertimbangan bahwa: (1) ketiga kecamatan itu mewakili daerah perkotaan, daerah pedalaman, dan daerah pinggiran; (2) penelitian sastra tidak ditentukan atas luasnya daerah sample namun yang paling penting adalah kualitas data yang diperoleh; (3) ketiga kecamatan itu mudah dijangkau peneliti. 

B. Penentuan Informan
 Dalam penelitian ini, informan ditentukan berdasarkan teknik “Purposive Sample” yaitu sampel penelitian bukan berdasarkan atas adanya strata random, tetapi berdasarkan atas tujuan tertentu (Arikunto, 1989: 113). Oleh karena itu, dalam penelitian ini dipilih 20 informan. Pemilihan informan itu dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu, yaitu berdasarkan usia, pendidikan, latar belakang kelahiran dan tempat tinggal / keaslian asal daerah informan. Dalam hal ini, usia dibatasi pada 30 tahun ke atas, pendidikan minimal SD tetapi dianggap mengetahui selukbeluk cerita rakyat Mandalika Nyale atau Bau Nyale, informan harus asli suku Sasak.

C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini yaitu teknik wawancara yang diikuti dengan kegiatan pencatatan. Metode wawancara dimaksudkan untuk memperoleh informasi secara langsung dari informan dan responden, dengan daftar pertanyaan yang sudah disiapkan sebelumnya. Wawancara dengan informan dilakukan secara mendalam dan dilakukan secara terarah dan tidak terarah. Untuk wawancara tidak terarah dilakukan secara bebas kepada informan dalam memberikan keterangan umum mengenai struktur cerita rakyat Bau Nyale dan secara tidak terduga mengenai fungsi cerita rakyat dalam pementasan Bau Nyale yang tidak diketahui oleh peneliti bila tidak ditanyakan melalui wawancara.
Sementara itu, studi dokumentasi dilakukan untuk mengetahui data-data yang ada kaitannya dengan masalah penelitian yang terdapat pada masyarakat penikmat cerita rakyat Bau Nyale dan yang terdapat pada instansi terkait. Selain itu, juga dilakukan studi pustaka untuk mempelajari berbagai tulisan yang ada di kantor pemerintahan, kantor perpustakaan daerah dan lembaga lain, serta brosur yang relevan dengan penelitian ini.
Dalam hal ini, metode wawancara merupakan metode utama yang digunakan dalam penelitian ini. Metode lainnya bersifat sebagai pendukung seperti teknik pencatatan dan teknik studi pustaka. Hal itu, dilakukan karena cerita rakyat Mandalika Nyale atau Bau Nyale yang masih hidup dan berkembang pada masyarakat Sasak merupakan objek penelitian yang diutamakan dalam pengkajiannya.
Untuk menguji kebenaran data yang diperoleh dari berbagai informan maka tim peneliti (terdiri dari tiga peneliti) akan mengeceknya pada informan-informan lain mengenai sumber data yang berupa cerita rakyat Mandalika Nyale atau Bau Nyale. Hal itu, dilakukan karena cerita rakyat Mandalika Nyale atau Bau Nyale mempunyai beberapa variasi.

D. Teknik Analisa Data
Setelah cerita rakyat Mandalika Nyale atau Bau Nyale terkumpul, tim peneliti (terdiri dari tiga peneliti) melakukan seleksi, transkripsi, dan penerjemahan, serta analisis.
Data yang sudah selesai dikumpulkan dan sudah selesai diedit dan selesai diterjemahkan maka selanjutnya dilakukan analisis struktural dengan menggunakan metode struktural, yaitu suatu metode pembahasan karya sastra yang memandang karya sastra sebagai totalitas, sebagai keutuhan yang unsur-unsurnya saling berhubungan (Damono, 1984: 37). Dalam analisis sruktur ini, tim peneliti hanya memilih dua variasi cerita rakyat Mandalika Nyale atau Bau Nyale yang dituturkan secara lisan dan Bau Nyale yang dipentaskan pada acara pesta laut di Pantai Kuta Kecamatan Sengkol.
Dalam membahas fungsi cerita rakyat Mandalika Nyale atau Bau Nyale maka tim peneliti menggunakan metode deskriptif dan analisis struktural yaitu analisis yang membahas isi suatu karya sastra dan diikuti analisis fungsi dari karya sastra berupa cerita rakyat Mandalika Nyale atau Bau Nyale yang dituturkan secara lisan dan yang dipentaskan dalam bentuk drama, dihubungkn dengan hasil wawancara dengan informan.


BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

A.     Struktur Cerita Rakyat Bau Nyale
Unsur-unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri (Nurgiantoro, 2005:23). Unsur intrinsik ini akan selalu ada dalam sebuah karya sastra meliputi: tema, tokoh dan penokohan, latar/setting, alur/plot, sudut pandang /Point of View dan amanat.
1. Tema
Dalam karya sastra, tema diwujudkan dalam dua bentuk yaitu secara implisit (tersirat) dan eksplisit (tersurat). Secara imlisit maksudnya tema cerita tersirat dalam isi cerita, sehingga untuk menemukan tema cerita itu pembaca harus membaca cerita dengan cermat dan berulang kali. Sedangkan secara eksplisit atau tersurat maksudnya bahwa tema tersebut bisa secara langsung ditemukan dalam karya sastra tersebut misalnya saja dalam judul. Tema dalam cerita Mandalika Nyale dapat dilihat seperti pada kutipan berikut ini.
“Wahai ayahanda dan ibunda, serta semua rakyat negeri Tonjang Beru yang aku cintai. Hari ini aku telah menetapkan bahwa diriku untukk kamu semua. Aku tidak dapat memilih satu diantara Pangeran. Karena ini takdir yang menghendaki agar aku menjadi nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat munculnya nyale dipermukaan laut. (paragraf 9)
Kenapa sang Putri menoloak lamaran? Karena, selain rasa cintanya berbicara, ia juga merasa memikul tanggung jawab yang tidak kecil. Akan timbul bencana manakala sang Putri menjatuhkan pilihannya pada salah stu Pangeran. (paragraf 6)

Dalam cerita Putri Mandalika tersebut jelaslah bahwa tema cerita digambarkan secara implisit sehigga untuk menemukan tema cerita kita harus membaca cerita tersebut berulang-ulang. Setelah membaca cerita Putri Mandalika tersebut, dapat disimpulkan bahwa tema ceritanya adalah “Kasih sayang dan pengorbanan seorang Putri untuk negerinya”. Tema tersebut digambarkan pada saat Putri Mandalika mengumumkan kepada seluruh rakyatnya serta Pangeran-Pangeran yang ingin meminangnya, ia ral mengorbankan dirinya menjadi nyale demi untuk keselamatan rakyat dan negerinya.

2.  Tokoh dan Penokohan
Dari cerita Putri Mandalika ada beberapa tokoh yang ditemukan dalam cerita tersebut dan tokoh yang paling banyak dibicangkan atau menjadi sorotan adalah Putri Mandalika yang meruapakan tokoh utama dalam cerita tersebut. Setelah membaca cerita tersebut dengan seksama. Putri Mandalika selaku tokoh utama tidak terlepas dari watak atau sifat. Ada beberapa watak yang dimiliki oleh Putri Mandalika dalam cerita tersebut, diantaranya yaitu berbudi luhur dan bersikap suka menepati janji.
Sikap berbudi pekerti luhur Putri Mandalika dapat dilihat pada kutipan-kutipan berikut ini.
“....disamping anggun dan cantik ia terkenal ranah da sopan. Tutur bahasanya lembut. Itulah yang membuat sang Putri menjadi kebnggaan para rakyatnya. (Paragraf 2)
Mereka saling mengadu peruntungan, siapa bisa mempersunting Putri Mandalika. Apa daya dengan sepenuh perasaan halusnya. Putri Mandalika menapik”. (paragraf 4).
Di samping memiliki sikap sopan santun dan berbudi pekerti luhur maka Putri Mandalika juga mempunyai watak suka menepati janji. Hal ini bisa dicermati dari kutipan berikut ini.
“Betul seperti janjinya. Sang Putri mucul sebelum adzan berkumandang. Persis ketika langit memerah di ufuk timur. Sang Putri yang cantik dan anggun ini hadir dengan diusung menggunakan usungan yang berlapis baja”. (paragraf 8)

2. Latar/Setting
Latar belakang cerita Putri Mandalika sangat mendukung, karena setiap gerak tokoh dalam menimbulkan peristiwa selalu berlangsung dalam suatu tempat, ruang, waktu dan suasana tertentu seperti dalam cerita Putri Mandalika. Latar dalam cerita ini mengambil tempat pantai selatan pulai Lombok, pada sebuah kerajaan yang bernama Tonjang Beru. Kerajaan ini adalah kerajaan yang makmur, aman dan sentosa karena dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana serta selalu membantu rakyatnya.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa latar mengacu pada tiga pengertian yaitu tempat, wkatu serta suasana. Berikut akan dipaparkan latar yang terdapat dalam cerita terebut.
a.      Latar Tempat
Tempat yang digambarkan dalam cerita tersebut diantaranya yaitu pantai Selatan Pulau Lombok, kerajaan Tonjang Beru, pantai kuta, pada sebuah onggokan batu. Hal ini dapat dilihat dari kutipan-kutipan berikut:
“...D pantai Selatan Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan yang bernama Tanjung Beru. Sekililing kerajaan ini dibuat ruangan-ruangan yang besar”. (paragraf 1)
Selain itu, latar tempat yang digambarkan dalam cerita tersebut adalah pantai kuta serta pada sebuah onggokan batu. Hal tersebut terjadi pada saat pturi Mandalika mengumpulkan semua rakyat, para Pangeran serta orang tuanya untuk memberitahukan pilihannya. Berikut kutipannya:
“Mereka harus disertai oleh rakyat masing-masing. Semua para undangan diminta datang dan berkumpul di Pantai Kuta”. (paragraf 6)

b. Latar Waktu
Waktu yang digambarkan dalam cerita Putri Mandalika  diantaranya yaitu pada tanggal 20 bulan 10 (bulan Sasak) menjelang pagi-pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang, ketika langit memerah di ufuk timur. Latar tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Dalam semadi, Putri mendapat wangsit agar mengundang semua Pangeran dalam pertemuan pada tanggal 20 bulan 10 (bulan Sasak) menjelang pagi-pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang”. (paragraf 6)
“Betul seperti janjinya. Sang Putri muncul sebelum adzan berkumandang. Persis ketika langit memerah di ufuk timur”. (paragraf 8)

c. Latar Suasana
Latar suasana merupakan suasan ayang digambarkan dalam sebuah cerita. Suasana tersebut bisa suasana sedih, senang, ramai, sepi dan lain sebagainya. Dalam cerita Putri mandaslika ini banyak suasana yang digambarkan diantaranya yaitu suasanan makmur, aman, dan sentosa, suasana duka, suasana ramai serta suasana bingung. Untuk lebih jelasnya perhatikanlah kutipan-kutipan berikut ini.

“Keampuhan kedua senggeger ini tak kepalang tanggung dimana Putri Mandalika, wajah kedua Pangeran itu muncul berbarengan. Tak bisa makan, tak bisa tidur, sang Putri akhirnya kurus kering. Seisi negeri Tanjong Beru disaput duka”. (paragraf 5)
“Tanpa diduga-diduga enam orang para Pangeran datang dan rakyat banyak yang datang, ribuan jumlahnya. Pantai yang didatangi ini bagaikan dikerumuni semut”. (paragraf 6).

Suasana yang digambarkan dalam kutipan di atas adalah suasana yang sangat ramai, hal tersebut ditandai dengan adanya kata dikerumui semut, yang menggabarkan banyaknya orang.
Selain suasana makmur, aman dan sentosa, suasana duka dan suasana ramai, digambarkan juga suasana gelisah, kebingungan dan penasaran. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.
“Pengunjung berduyun-duyun datang dari seluruh penjuru pulau Lombok. Merekapun berkumpul dengan hati tak sabar menanti kehadiran sang Putri”. (paragraf 7)
“Bersamaan dengan berakhirnya kata-kata tersebut, para Pangeran bingung, rakyatpun ikut bingung dan bertanya-tanya memikirkan kata-kata itu”. (paragraf 10)
“....pada saat mereka sedang kebingungan, muncullah binatang kecil yang jumlahnya sangat banyak yang kini disebut sebagai nyale”. (paragraf 10).

c. Alur/Plot
Alur  yang digunakan dalam cerita Putri Mandalika ini terdiri dari dua alur, yakni alur maju dan alur mundur hal tersebut dapat di lihat dati kutipan-kutipan cerita dibawah ini:
“Menurut dongeng pada zaman dahulu di pantai …”. (paragraf 1)
“.....ketika sang Putri menginjak usia dewasa, amat elok parasnya.....”. (paragraf 2).
“....Dalam semedi, sang Putri mendapat wangsit.... Pada tanggal 20 bulan 10 (bulan sasak) menjelang pagi-pangi...”. (paragraf 6).
“....Yang menunggu berhari-hari hanya bisa melongo .... Sang Putri datang dengan gaun ....”. (paragraf 8).
“.... Pada saat mereka pada kebingungan muncullah binatang-binatang kecil yang jumlahnya sangat .... lalu beramai-ramai mereka berlomba mengambil....”. (paragraf 11).

d.      Sudut Pandang/Point of  View
Dalam cerita Putri Mandalika ini, sudut pandang yang digunakan adaslah sudut pandang orang ketiga (dia), pencerita seolah-olah serba tahu tentang tokoh dan segala hal yang berhubungan dengan cerita. Hal ini dapat dilihat pada keseluruhan cerita yang banyak menyebutkan nama tokoh serta kata pengganti orang ketiga seperti dia, ia, mereka dan lain-lain yang merupakan ciri penggunaan sudut pandang orang ketiga.
Baginda memiliki seorang Putri yang bernama Putri Mandalika. Ketika sang Putri menginjak usia dewasa... ia sangat anggun dan cantik jelita .... disamping anggun dan cantik ia terkenal ramah dan sopan”. (paragraf 2)
           
e.      Amanat
Dalam cerita Putri Mandalika ini pengarang hendak menyampaikan kepada pembaca agar senantiasa rela berkorban untuk orang lain dan bijaksana serta adil dalam bertindak atau mengambil keputusan. Hal tersebut dapat dilihat dari perkataan Putri Mandalika ketika mengumumkan keputusannya kepada Pangeran yang memperebutkannya, orang tua dan seluruh rakyatnya. Perhatikan kutipan berikut:
“Wahai ayahanda dan ibuda serta semua Pangeran dan rakyat Negeri Tonjang Beru yang aku cintai. Hari aku telah menetapkan bahwa diriku untuk kamu semua. Aku tidak dapat memilih satu diantara Pangeran. Karena ini takdir yang menghendaki agar aku menjadi nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat munculnya nyale dipermukaan laut”.(Paragraf 9)
 B.  Fungsi Cerita Rakyat Bau Nyale

Cerita rakyat lazim disajikan pada anak-anak usia sekolah dasar dan lanjutan. Akan tetapi, cerita rakyat banyak digunakan dalam menanamkan pendidikan dalam jiwa anak di masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara terhadap informan dan dari telaah naskah cerita rakyat Bau Nyale di Lombok, maka dapat diketahui beberapa fungsi cerita rakyat Bau Nyale antara lain:
a.       Sebagai hiburan,
b.      Penggalang rasa kesetiakawanan masyrakat yang menjadi pemilik cerita rakyat tersebut,
c.       Sebagai sarana pendidikan,
d.      Sebagai pengokoh nilai-nilai sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat, dan
e.       Sebagai sarana pengontrol kehidupan social.
Cerita rakyat Putri Mandalika Nyale ini sangat bermotif mendidik kepentingan moral disamping fungsinya sebagai pelipur lara. Seperti yang kita ketahui bahwa cerita Putri Mandalika Nyale yang merupakan salah satu sastra lisan disebarkan dari mulut kemulut karena lahir dalam masyarakat dan merupakan warisan budaya yang menggambarkan masa lampu yang menjadi sasak menggunakan bahasa sasak dalam bertutur kata, tersebar secara lisan diyakini oleh masyarakat pemiliknya diyakini sebagai gambaran masyarakat pada masa lampau. Cerita rakyat ini merupakan salah satu bagian kesusastraan yang mempunyai fungsi sosial karna kesusastraan merupakan ekspresi masyarakat (wellek dalam Mursal Ersten, 1993:5)
Objek garapan cipta sastra selalu berpusat pada masalah yang mencakup fenomena kehidupan manusia dan lingkungan alam sekitarnya yang terjadi pada zaman dahulu sastra juga salah satu media pendidikan yang efektif karna dapat membentuk manusia yang berkepribadian dan berwatak. Berdasarkan urian ciptaan sastra di atas seperti apa yang diangkat sekarang yaitu masalah cerita rakyat “Putri Mandalika Nyale” sangat banyak sekali nilai-nilai yang kita ambil dan jadikan sebagai suatu hal untuk membandingkan kelanjutan suatu tradisi.
Berdasarkan cerita rakyat Putri Mandalika Nyale, maka kita bisa menanamkan kesadaran tentang pemahaman dan penghayatan nilai-nilai dan hakikat kehidupan manusia sebagai makhluk individu dan sosial. Begitupun pemahaman terhadap karya sastra secara tidak langsung berarti pemahaman terhadap nilai-nilai kemanusiaan secara luas dan mendalam dan pada akhirnya akan membentuk watak dan perilaku manusia.
Dari isi cerita Putri Mandalika Nyale di tengah-tengah kehidupan masyarakat sangat berpengaruh positif terhadap pembentukan watak dan sikap masyarakat pikiran manusia cerita itu juga berfungsi sebagai sarana penyampaian nilai-nilai kependidikan yang terkandung dalam cerita Putri Mandalika Nyale, yang dapat memberikan pengaruh dalam pembentukan sikap, pola, piker, pandangan, watak dan kepribadian.






BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN

A.     Simpulan
Struktur cerita rakyat Bau Nyale terdiri atas struktur intrinsik dan ekstrinsik. Struktur intrinsik meliputi tema, tokoh dan penokohan, alur,  latar, dan amanat. Adapun unsure ekstrinsik yaitu meliputi agama dan adat istiadat.
Fungsi cerita rakyat Bau Nyale yaitu untuk: menghibur masyarakat; memberikan keteladanan dalam dalam hidup bermasyarakat, dan memberikan contoh dalam menghayati nilai-nilai agama atau dalam beragama; serta memberikan rambu-rambu kepada masyarakat mengenai perbuatan dan tingkah laku yang tidak terpuji di masyarakat.

B.  Saran
Pemerintah daerah propinsi Nusa Tenggara Barat dipandang perlu bekerja sama dengan pihak terkait seperti Dinas Parawisata dan Seni Budaya, Dinas Pendidikan baik di tingkat kabupaten (Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga) maupun di tingkat kota (Dinas Pendidikan Kota), serta lembaga pendidikan baik di tingkat pendidikan dasar maupun di tingkat pendidikan tinggi, untuk melakukan identifikasi, inventarisasi, serta sosialisasi tentang struktur dan fungsi cerita rakyat yang berada di daerah, tidak terkecuali cerita rakyat daerah Bau Nyale. Melalui upaya itu, diharapkan akan terjaga kelestarian budaya khususnya yang terkandung dalam cerita rakyat di daerah Nusa Tenggara Barat.
Upaya pelestarian cerita rakyat daerah khususnya cerita rakyat Bau Nyale dapat dilakukan dengan mendukung penuh serta memberikan bantuan baik moral maupun material setiap diadakan pementasan cerita rakyat (pada perayaan Bau Nyale) dalam bentuk fragmen drama. Di samping itu, untuk menanamkan cinta budaya dan kearifan budaya local maka cerita rakyat dapat dijadikan sebagai materi muatan local pada pelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah dan secara periodic dapat dipentaskan untuk mendukung pembelajaran sastra di sekolah dan mendukung pembelajaran mata kuliah teori dan pementasan drama.


DAFTAR PUSTAKA

Ardhana, I Gusti Ketut, dkk. 1985. Sastra Lisan Sumbawa. Bali - Denpasar: Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah.
Damono, Sapardi Djoko. 1984. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Efendi, Mahmudi dan Intiana, Rohana Hariana. 1004. Aspek Pengendalian Sosial dalam Takhayul Sasak. Mataram: FKIP Unram.
Danandjaya, James. 1984. Foklor Indonesia. Jakarta: PT Grafiti Pers.
Garis-garis Besar Haluan Negara. 2005. Surabaya: Bina Pustaka Utama.
Hoed, Benny H. 1995. Kata Pengantar Dalam Jean Peaget: Strukturalisme. Terjemahan Harmoyo. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Luxemburg, Jan Van, dkk. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Terjemahan Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.
-------------------------------. 1989. Tentang Sastra. Terjemahan Achadiati Ikram. Jakarta: Intermasa.
Mari’i. 1997. Resepsi Masyarakat terhadap Foklor Lisan Sasak Lelekaq. Mataram: FKIP Universitas Mataram.
Moeliono, Anton M. 1982. “Diksi atau Pilihan Kata: Suatu Spesifikasi di dalam Kosa Kata”. Dalam Pembinaan Bahasa Indonesia III. Jakarta: Bhratara.
Mustaqiem. 1993. Kedudukan dan Fungsi Lawas dalam Masyarakat Sumbawa di Kecamatan Plampang. Skripsi Sarjana: FKIP Universitas Mataram.
Nurgiantoro, N. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM Press.
Piaget, Jean. 1995. Strukturalisme. Terjemahan Harmoyo. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.
Jahiban, Mursini dan Sapiin. 1995. Dongeng Etnis Sasak dan Aspek Pendidikan Moralnya. Mataram : FKIP Unram.
Sudjiman, Panuti. 1990. Kamus Istilah sastra. Cetakan Ketiga. Jakarta: UI Press.
Teew, A. 1983. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Todorov, Tzvetan. 1985. Tata Sastra. Terjemahan Okke K.S. Zaimar, dkk. Jakarta: Djambatan. 

 lampiran-lampiran
Lampiran 1
Lembar Observasi dan Angket Penelitian

Angket dan Observasi Penelitian

I. Nama Versi Nyale Lombok              : .........................................................
 Isi Cerita / Sinopsis Cerita                 :............ .............................................
...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
Struktur Cerita / Sinopsis Cerita                     :............ ................................
...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
II. Informan Cerita Mandalika Nyale Lombok
a. Nama                                            :
b. Jenis kelamin                                 :
c. Umur                                             :
d. Pekerjaan                                      :
e. Alamat                                           :

III. Angket
1.  Menurut Bapak/ Ibu, struktur intrinsik apa saja yang terkandung dalam cerita rakyat Mandalika Nyale yang bisa diambil hikmahnya bagi masyarakat pendukung cerita rakyat tersebut ?
2  Menurut Bapak/ Ibu, struktur ekstrinsik apa saja yang terkandung dalam cerita rakyat Mandalika Nyale yang bisa diambil hikmahnya bagi masyarakat pendukung cerita rakyat tersebut ?
3. Menurut Bapak/ Ibu, apa kontribusi cerita rakyat Mandalika Nyale  terhadap pembinaan generasi muda di masyarakat ?
4. Menurut Bapak/ Ibu, apa fungsi cerita rakyat Mandalika Nyale  dalam kehidupan sosial di masyarakat ?
5.  Pada saat apa saja cerita rakyat Mandalika Nyale dipentaskan atau diceritakan di masyarakat ?

IV. Observasi
  1. Struktur intrinsik cerita rakyat Mandalika Nyale yaitu : ......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

  1. Struktur ekstrinsik cerita rakyat Mandalika Nyale yaitu : ......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
  2. Fungsi cerita rakyat Mandalika Nyale dipentaskan di masyarakat yaitu : .....................................................................................................................................................................................................................
Lampiran 2

 Data 20 Informan Penelitian di Kecamatan Sengkol

1 a. Nama / Umur /Pendidikan          : Wiwin Suganda /32 thn/ SMA               
b. Jenis Kelamin/ Pekerjaan        : Pria /PNS 
2 a. Nama / Umur/Pendidikan           : Zulkifli/ 30 thn / SMA
   b. Jenis Kelamin                               : Pria/ PNS     
3 a. Nama / Umur/Pendidikan           : Mahsun /  49 thn/SMA                 
   b. Jenis Kelamin/ Pekerjaan         : Pria/ PNS     
4 a. Nama / Umur/Pendidikan           : Lalu Budi Satriawan/40 thn/S1  
   b. Jenis Kelamin/ Pekerjaan         : Pria/ Wiraswasta
5 a. Nama / Umur/Pendidikan           : Muhamad Ali /48 thn/SMA                 
   b. Jenis Kelamin/ Pekerjaan         : Pria/ PNS
6 a. Nama / Umur/Pendidikan           : Abdul Majid /47 thn/ D3  
   b. Jenis Kelamin                               : Pria/ PNS
7 a. Nama / Umur/Pendidikan           :  Zubaedah/ 46 thn/ SMA                   
   b. Jenis Kelamin/ Pekerjaan         : Wanita /PNS 
8 a. Nama /Umur/Pendidikan            : Muhamad Husni/49 thn / SMA
    b. Jenis Kelamin                              : Pria/ PNS     
9  a. Nama /Umur/Pendidikan           :  Baiq Yumniati/32 thn/ SMA                  
    b. Jenis Kelamin/ Pekerjaan        : Wanita /PNS 
10a. Nama / Umur/Pendidikan         : Agus Hendrawan/ 30 thn/ SMA  
 b. Jenis Kelamin                             : Pria/ Wiraswasta     
11a. Nama / Umur/Pendidikan         : Lalu Sarkin /52 thn/ S1                   
 b. Jenis Kelamin/ Pekerjaan       : Pria /PNS 
12 a. Nama / Umur/Pendidikan        : Baiq Maori/ 37 thn/ D3  
  b. Jenis Kelamin                            : Wanita/ PNS     
13 a. Nama / Umur/Pendidikan        : Baiq Dian Yuniarti/46 thn/ S1                   
  b. Jenis Kelamin/ Pekerjaan      : Wanita /PNS 
14 a. Nama / Umur/Pendidikan        : Baiq Misnah/ 40 thn/ SD
  b. Jenis Kelamin                            : Wanita/ Pedagang     
15 a. Nama / Umur/Pendidikan        ; Yuli Handayani/ 40 thn/ SD                 
     b. Jenis Kelamin/ Pekerjaan       : Wanita/ Pedagang     
16 a. Nama / Umur/Pendidikan        : Husaini/ 37 thn/ SD
      b. Jenis Kelamin                            : Pria/ Wiraswasta
18 a. Nama / Umur/Pendidikan        : Fatimah/ 42 thn/ SD
      b. Jenis Kelamin                            : Wanita/ Petani
19 a. Nama / Umur/Pendidikan        :  Ismail/ 37 thn/ SD                  
     b. Jenis Kelamin/ Pekerjaan       : Pria/ Buruh Swasta
20 a. Nama / Umur/Pendidikan        : Muhamad Zuhdi/ 41 thn/ SMA
      b. Jenis Kelamin                            : Pria/ PNS



Lampiran 4
Sinopsis Cerita Rakyat Mandalika Nyale
PUTRI MANDALIKA

Cerita Versi Pertama
Menurut dongeng bahwa pada zaman dahulu di pantai selatan Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan yang bernama Tonjang Beru. Sekeliling di kerajaan ini dibuat ruangan-ruangan yang besar. Ruangan ini digunakan untuk pertemuan raja-raja. Negeri Tonjang Beru ini diperintah oleh raja yang terkenal akan kearifan dan kebijaksanaannya. Raja itu bernama raja Tonjang Beru dengan permaisurinya bernama Dewi Seranting.
Baginda mempunyai seorang putri, namanya Putri Mandalika. Ketika sang putri menginjak usia dewasa, amat elok parasnya. Ia sangat anggun dan cantik jelita. Matanya laksana bintang di timur. Pipinya laksana pauh di layang. Rambutnya bagaikan mayang terurai. Di samping anggun dan cantik ia terkenal ramah dan sopan. Tutur bahasanya lembut. Itulah yang membuat sang putri menjadi kebanggaan para rakyatnya.
Semua rakyat sangat bangga mempunyai raja yang arif dan bijaksana yang selalu membantu rakyatnya yang kesusahan. Berkat segala bantuan dari raja, rakyat negeri Tonjang Beru menjadi hidup makmur, aman, dan sentosa. Kecantikan dan keanggunan Putri Mandalika sangat tersohor dari ujung timur sampai ujung barat Pulau Lombok. Kecantikan dan keanggunan sang putri terdengar oleh pangeran-pangeran dari segala penjuru, terutama pangeran-pangeran dari segala penjuru, terutama pangeran-pangeran yang membagi habis bumi Sasak (Lombok). Masing-masing dari kerajaan Johor, Lipur, Pane, Kuripan, Daha, dan Kerajaan Beru. Para pangerannya jatuh cinta kepada Putri Mandalika. Mereka mabuk kepayang melihat kecantikan dan keanggunan sang putri.
Karena banyaknya Pangeran yang menginginkan Putri Mandalika menjadi permaisurinya, mereka saling mengadu peruntungan untuk mempersunting Putri Mandalika. Apa daya dengan sepenuh persaan halusnya, Putri Mandalika menampik. Para Pangeran jadi gigit jari. Namun dua pengeran amat murka menerima kenyataan itu. Mereka adalah Pangeran Datu Teruna dan Pangeran Maliawang. Masing-masing dari kerajaan Johor dan kerajaan Lipur. Datu Teruna mengutus Arya Bawal dan Arya Tebik untuk melamar, dengan ancaman hancurnya kerajaan Tonjang Beru bila lamaran itu ditolaknya. Pangeran Maliawang mengirim Arya Bumbung dan Arya Tuna dengan hajat dan ancaman yang serupa.
Putri Mandalika tidak bergeming. Serta merta Datu Teruna melepaskan senggeger Utusaning Allah, sedang Maliawang meniup senggeger Jaring Sutra Keampuhan kedua senggeger ini tak kepalang tanggung dimana Putri Mandalika, wajah kedua Pangeran itu muncul berbarengan. Tak bisa makan, tak bisa tidur, sang Putri akhirnya kurus kering. Seisi negeri Tonjang Beru disaput duka.
Kenapa sang Putri menolak lamaran para Pangeran yang menyuntingnya? Karena,  selain rasa cintanya mesti bicara, ia juga merasa memikul tanggung jawab yang tidak kecil. Akan timbul bencana manakala sang Putri menjatuhkan pilihannya pada salah seorang Pangeran. Dalam semadi, sang Putri mendapat wangsit agar mengundang semua Pangeran dalam pertemuan pada tanggal 20 bulan 10 (bulan Sasak) menjelang pagi-pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang. Mereka harus disertai oleh seluruh rakyat masing-masing. Semua para undangan diminta datang dan berkumpul di pantai Kuta. Tanpa diduga-duga enam orang para Pangeran datang, dan rakyat banyak yang datang, ribuan jumlahnya. Pantai yang didatangi ini bagaikan dikerumuni semut.
Ada yang datang dua hari sebelum hari yang ditentukan oleh sang Putri. Anak-anak sampai kakek-kakek pun datang memenuhi undangan sang Putri ditempat itu. Rupanya mereka ingin menyaksikan bagaimana sang Putri akan menentukan pilihannya. Pengunjung berduyun-duyun datang dari seluruh penjuru pulau Lombok. Meskipun berkumpul dengan hati tak sabar menanti kehadiran sang Putri.
Betul seperti janjinya. Sang Putri muncul sebelum adzan berkumandang. Persis ketika langit memerah di ufuk timur. Sang Putri yang cantik dan anggun ini hadir dengan diusung menggunakan usungan yang berlapiskan emas. Prajurit kerajaan berjalan di kiri, di kanan, dan di belakang sang Putri. Sungguh pengawalan yang ketat. Semua undangan yang menunggu berhari-hari hanya bisa melongo kecantikan dan keanggunan sang Putri. Sang puti datang gaun yang sangat indah. Bahannya dari kain sutera yang sangat halus.
Tidak lama kemudian, sang Putri melangkah, lalu berhenti di onggokan batu, membelakangi laut lepas. Disitu Putri Mandalika berdiri kemudian ia menoleh kepada seluruh undangannya. Sang Putri berbicara singkat, tetapi isinya padat, mengumumkan keputusannya dengan suara lantang dengan berseru: “wahai ayahanda dan ibunda serta semua Pangeran dan rakyat negeri Tonjang Beru yang aku cintai. Hari ini aku telah menetapkan bahwa diriku untuk kamu semua. Aku tidak dapat memilih satu diantara Pangeran. Karena ini takdir yang menghendaki agar aku menjadi Nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal sat munculnya Nyale di permukaan laut”.
Bersamaan dan berakhirnya kata-kata pera Pangeran pada bingung rakyat pun ikut bingung dan bertanya-tanya memikirkan kata-kata itu. Tanpa diduga-duga sang Putri mencampakkan sesuatu di atas batu dan menceburkan diri ke dalam laut yang langsung di telan gelombang disertai dengan angin kencang, kilat dan petir yang menggelagar.
Tidak ada tanda-tanda sang Putri ada di tempat itu. Pada saat mereka paa kebingungan muncullah binatang kecil yang jumlahnya sangat banyak yang kini disebut sebagai Nyale. Binatang itu berbentuk cacing laut. Dugaan mereka binatang itulah jelmaan dari sang Putri. Lalu beramai-ramai mereka berlomba mengambil binatang itu sebanyak-banyaknya untuk dinikmati untuk sebagai rasa cinta kasih dan pula sebagai santapan atau keperluan lainnya.

Cerita Versi ke-2
Dalam salah satu dongeng, di pantai selatan Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan bernama Tonjang Beru.
Negeri Tonjang Beru diperintah oleh seorang raja yang dikenal berwibawa. Namanya Tonjang Beru, beristri Dewi Seranting, dan dikaruniai seorang anak, Putri Mandalika.
Ketika sang Putri menginjak dewasa, parasnya amat elok. Matanya bagaikan bintang fajar timur. Pipinya laksana pauh dilayang. Rambunya mayang terurai. Disamping anggun dan cantik, ia terkenal ramah dan sopan. Tutur bahasanya lembut. Itulah yang membuat sang Putri menjadi kebanggaan rakyatnya.
Kecantikan dan keangguannya terdengar oleh para Pangeran dari Kerajaan Johor, Lipur, Pane, Sampai Daha. Mereka mabuk kepayang. Mereka lalu mengadu peruntungan, siapa bisa mempersunting Putri Mandalika. Rupanya Putri Mandalika menampik hasrat Pangeran.
Dua Pangeran amat murka menerima kenyataan ini. Pangeran Datu Teruna dan Pangeran Maliawang mengutus Arya Bawal dan Arya Tebik untuk melamar, dengan ancaman hancurnya Kerjaan Tojang Beru bila lamarannya ditolak. Begitu juga Pangeran Maliawang. Keduanya mengirim Arya Tuna dengan hajat dan ancaman serupa.
Putri Madalika tidak bergeming. Serta-merta Datu Teruna melepaskan senggeger Utusanangin Allah, sedangkan Maliawang meniup Senggeger Jaring Sutra. Keampuhan kedua senggeger ini tak kepalang tanggung. Di mata Putri Mandalika wajah kedua Pangeran itu muncul berbarengan.
Akibatnya, Putri Mandalika tik doyan makan dan susah tidur. Tubuh sang Putri menjadi kurus kering. Seisi negeri Tonjang Beru disaput duka. Kenapa sang Putri menolak lamaran banyak Pangeran? Ada keyakinan, bakal timbul bencana manakala sang Putri menjatuhkan pilihannya pada salah seorang Pangeran.
Sang Putri merasa perlu mengundang semua Pangeran dalam pertemuan pada tanggal 28 bulan 10 (bulan sasak) sebelum adzan subuh. Mereka yang hendak hadir harus disertai rakyatnya, sedikitnya enam Pangeran datang diiringi ribuan orang.
Benar, sang Putri muncul sebelum adzan subuh berkumandang. Putri Mandalika yang menawan muncul diusung keranda berlapiskan emas. Prajurit kerajaan berjalan di sisi kiri dan kanannya. Sang Putri lantas melangkah menuju onggokan batu membelakangi laut lepas. Ia berdiri untuk menoleh kepada seluruh undangan. Ia menugumumkan keputusannya.
“Wahai, ayahanda dan Ibunda serta semua ucapan sang Putri, para Pangeran bingung. Tanpa diduga sang Putri mencampakkan sesuatu di atas batu dan menceburkan diri ke dalam laut yang langsung ditelan gelombang. Angin kencang menyambar-nyambar, kilat dan petir menggelegar, mengiringi lenyapnya sang Putri.
Pangeran dan rakyatnya kebingungan. Tiba-tiba muncul bintang kecil yang jumlahnya sangat banyak. Itulah yang kemudian disebut nyale. Binatang itu berbentuk cacing laut yang diparcaya sebagian orang sebagai jelmaan sang Putri. Kisah bau nyale ini dipercaya turu-temuru di pulau lombok.

    

2 komentar:

  1. Terimakasih Banyak ya Sahabat,, Saya mendapatkan banyak manfaat dari hasil penelitian ini..
    kalo di izinkan, saya ingin posting hasil penelitian Anda ini di web saya..

    BalasHapus