Follow by Email

wacana


BAB I
PENADAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pada hakikatnya fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan agar kita terampil berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan. Pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir, mengungkapkan gagasan, perasaan, pendapat, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi tentang suatu peristiwa dan kemampuan memperluas wawasan. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia haruslah diarahkan pada hakikat Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai alat komunikasi. Sebagaimana diketahui bahwa sekarang ini orientasi pembelajaran bahasa berubah dari penekanan pada pembelajaran aspek bentuk ke pembelajaran yang menekankan pada aspek fungsi. Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses negoisasi pesan dalam suatu konteks atau situasi menurut Sampson (dalam Depdiknas 2005:7).
Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan, tidak hanya penting dalam kehidupan pendidikan, tetapi juga sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Keterampilan menulis itu sangat penting karena merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki. Dengan menulis kita dapat mengungkapkan atau mengekspresikan gagasan atau pendapat, pemikiran, dan perasaan yang dimiliki. Selain itu, dapat mengembangkan daya pikir dan kreativitas kita dalam menulis.
Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Bahwa menulis adalah suatu kegiatan yang aktif dan produktif serta memerlukan cara berpikir yang teratur yang diungkapkan dalam bahasa tulis. Keterampilan seseorang untuk mengungkapkan ide, pikiran, gagasan, pengetahuan, ilmu, dan pengalaman sebagai suatu keterampilan yang produktif. Menulis dipengaruhi oleh keterampilan produktif lainnya, seperti aspek berbicara maupun keterampilan reseptif yaitu aspek membaca dan menyimak serta pemahaman kosa kata, diksi, keefektifan kalimat, penggunaan ejaan dan tanda baca. Pemahaman berbagai jenis karangan serat pemahaman berbagai jenis paragraf dan pengembangannya.
1.2 Rumusan Masalah
Sesuai dengan pokok permasalahan tema yang diangkat  penulis, mengenai teknik-teknik pengembangan wacana sebagai media komonikasi, maka permasalahan seputar pengemabngan wacana dapat dijabarkan sebagai rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan wacana dan jenis-jenisnya.
2.      Bagaimana cara membangun pola sebuah wacana.
1.3  Tujuan penulisan
Setiap tindakan harus disertai dengan tujuan, demekian juga dengan makalah ini, tujuan dari makalah ini yakni memberikan gambaran kepada pembaca untuk bagaimana cara mengembangkan sebuah wacana yang baik dalam menuangkan hasil pikirannya dalam bentuk tulisana.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Wacana
Wacana berasal dari bahasa Inggris discourse, yang artinya antara lain ”Kemampuan untuk maju menurut urutan-urutan yang teratur dan semestinya.” Pengertian lain, yaitu ”Komunikasi buah pikiran, baik lisan mmaupun tulisan, yang resmi dan teratur.” Jadi, wacana dapat diartikan adalah sebuah tulisan yang teratur menurut urut-urutan yang semestinya atau logis. Dalam wacana, setiap unsurnya harus memiliki kesatuan dan kepaduan.
Setiap wacana memiliki tema sebab tema merupakan hal yang diceritakan atau diuraikan sepanjang isi wacana. Tema menjadi acuan atau ruang lingkup agar isi wacana teratur, terarah dan tidak menyimpang ke mana-mana. Sebelum menulis wacana, seseorang harus terlebih dahulu menentukan tema, setelah itu baru tujuan. Tujuan ini berkaitan dengan bentuk atau model isi wacana. Tema wacana akan diungkapkan dalam corak atau jenis tulisan seperti apa itu bergantung pada tujuan dan keinginan si penulis. Setelah menetapkan tujuan, penulis akan membuat kerangka karangan yang terdiri atas topik-topik yang merupakan penjabaran dari tema. Topik-topik itu disusun secara sistematis. Hal itu dibuat sebagai pedoman agar karangan dapat terarah dengan memperlihatkan pembagian unsur-unsur karangan yang berkaitan dengan tema. Dengan itu, penulis dapat mengadakan berbagai perubahan susunan menuju ke pola yang sempurna. Membuat kerangka karangan sangat dianjurkan sebelum penulisan, terutama bagi pengarang pemula.
Kerangka karangan bermanfaat sebagai berikut.
1.   Pedoman agar penulisan dapat teratur dan terarah.
2.   Penggambaran pola susunan dan kaitan antara ide-ide pokok/topik.
3.  Membantu pengarang melihat adanya pokok bahasan yang menyimpang dari topik dan     adanya ide pokok yang sama.
4. Menjadi gambaran secara umum struktur ide karangan sehingga membantu   pengumpulan bahan-bahan pustaka yang diperlukan.
Agar penyusunan kerangka karangan dapat efektif menjadi acuan pembuatan karangan, langkah yang mesti ditempuh oleh pengarang untuk menyusun kerangka karangan adalah seperti berikut.
(1) Menentukan tema/topik karangan
(2) Menjabarkan tema ke dalam topik-topik/subtema
(3) Mengembangkan topik-topik menjadi subtopik
(4) Menginvestaris sub-sub topik
(5) Menyeleksi topik dan sub-subtopik yang cocok
(6) Menentukan pola pengembangan karangan

2.2  Jenis-Jenis Wacana
Berdasarkan bentuk atau jenisnya, wacana dibedakan menjadi wacana narasi, deskripsi, eksposisi, argumentatif, dan persuasi.
2.2.1 Narasi
Narasi adalah cerita yang didasarkan pada urut-urutan suatu kejadian atau peristiwa. Narasi dapat berisi fakta, misalnya biografi (riwayat seseorang), otobiografi/riwayat hidup seseorang yang ditulisnya sendiri, atau kisah pengalaman. Narasi seperti ini disebut dengan narasi ekspositoris. Narasi bisa juga berisi cerita khayal/fiksi atau rekaan seperti yang biasanya terdapat pada cerita novel atau cerpen. Narasi ini disebut dengan narasi
imajinatif.
Unsur-unsur penting dalam sebuah narasi adalah:
(1) kejadian,
(2) tokoh,
(3) konflik,
(4) alur/plot.
(5) latar yang terdiri atas latar waktu, tempat, dan suasana.

Narasi diuraikan dalam bentuk penceritaan yang ditandai oleh adanya uraian secara kronologis (urutan waktu). Penggunaan kata hubung yang menyatakan waktu atau urutan, seperti lalu, selanjutnya, keesokan harinya, atau setahun kemudian kerap dipergunakan.
Tahapan menulis narasi, yaitu sebagai berikut.
(1) menentukan tema cerita
(2) menentukan tujuan
(3) mendaftarkan topik atau gagasan pokok
(4) menyusun gagasan pokok menjadi kerangka karangan secara kronologis atau urutan   waktu.
(5) mengembangkan kerangka menjadi karangan.
Contoh wacana narasi
Aku tersenyum sambil mengayunkan langkah. Angin dingin yang menerpa, membuat tulang-tulang di sekujur tubuhku bergemeretak. Kumasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku jaket, mencoba memerangi rasa dingin yang terasa begitu menyiksa.Wangi kayu cadar yang terbakar di perapian menyambutku ketika Eriza membukakan pintu. Wangi yang kelak akan kurindui ketika aku telah kembali ke tanah air. Tapi wajah ayu di hadapanku, akankah kurindui juga?

2.2.2 Deskripsi
Kata deskripsi berasal dari bahasa latin discribere yang berarti gambaran, perincian, atau pembeberan. Deskripsi adalah karangan yang menggambarkan suatu objek berdasarkan hasil pengamatan, perasaan dan pengalaman penulisnya. Tujuannya adalah pembaca memperoleh kesan atau citraan sesuai dengan pengamatan, perasaan, dan pengalaman penulis sehingga seolah-olah pembaca yang melihat, merasakan, dan mengalami sendiri obyek tersebut. Untuk mencapai kesan yang sempurna, penulis deskripsi merinci objek dengan kesan, fakta, dan citraan.
Dilihat dari sifat objeknya, deskripsi dibedakan atas 2 macam, yaitu sebagai berikut.
  1. Deskripsi Imajinatif/Impresionis ialah deskripsi yang menggambarkanobjek benda     sesuai kesan/imajinasi si penulis.

Contoh deskripsi imajinatif
Salju tipis melapis rumput,  putih berkilau diseling warna jingga; bayang matahari senja yang memantul. Angin awal musim dingin bertiup menggigilkan, mempermainkan daun-daun sisa musim gugur dan menderaikan bulu-bulu burung berwarna kuning kecoklatan yang sedang meloncat-loncat dari satu ranting ke ranting yang lain.
b. Deskripsi faktual/ekspositoris ialah deskripsi yang menggambarkan objek berdasarkan           urutan logika atau fakta-fakta yang dilihat.
Contoh deskripsi faktual
Hampir semua pelosok Mentawai indah. Di empat kecamatan masih terdapat hutan yang masih perawan. Hutan ini menyimpan ratusan jenis flora dan fauna. Hutan Mentawai juga menyimpan anggrek aneka jenis dan fauna yang hanya terdapat di Mentawai. Siamang kerdil, lutung Mentawai dan beruk Simakobu adalah contoh primata yang menarik untuk bahan penelitian dan objek wisata.

Tahapan menulis karangan deskripsi, yaitu:
(1) menentukan objek pengamatan
(2) menentukan tujuan
(3) mengadakan pengamatan dan mengumpulkan bahan
(4) menyusun kerangka karangan
(5) mengembangkan kerangka menjadi karangan.

2.2.3  Eksposisi
Kita eksposisi berasal dari bahasa Latin exponere yang berarti: memamerkan, menjelaskan, atau menguraikan. Karangan eksposisi adalah karangan yang memaparkan atau menjelaskan secara terperinci (memaparkan) sesuatu dengan tujuan memberikan informasi dan memperluas pengetahuan kepada pembacanya. Karangan eksposisi biasanya digunakan pada karya-karya ilmiah seperti artikel ilmiah, makalahmakalah untuk seminar, simposium, atau penataran.
 Untuk mendukung akurasi pemaparannya, sering pengarang eksposisi menyertakan bentuk-bentuk nonverbal seperti grafik, diagram,tabel, atau bagan dalam karangannya. Pemaparan dalam eksposisi dapatberbentuk uraian proses, tahapan, cara kerja, dan sebagainya dengan pola pengembangan ilustrasi, definisi, dan klasifikasi.
Tahapan menulis karangan eksposisi, yaitu sebagai berikut.
(1) menentukan objek pengamatan,
(2) menentukan tujuan dan pola penyajian eksposisi,
(3) mengumpulkan data atau bahan,
(4) menyusun kerangka karangan, dan
(5) mengembangkan kerangka menjadi karangan.
Contoh wacana eksposisi
            Pada dasarnya pekerjaan akuntan mencakup dua bidang pokok, yaitu akuntansi dan auditing. Dalam bidang akuntasi, pekerjan akuntan berupa pengolahan data untuk menghasilkan informasi keuangan, juga perencanaan  sistem informasi akuntansi yang digunakan untuk menghasilkan informasi keuangan.

2.2.4  Argumentasi
Karangan argumentasi ialah karangan yang berisi pendapat, sikap, atau penilaian terhadap suatu hal yang disertai dengan alasan, bukti-bukti, dan pernyataan-pernyataan yang logis. Tujuan karangan argumentasi adalah berusaha meyakinkan pembaca akan kebenaran pendapat pengarang. Karangan argumentasi dapat juga berisi tanggapan atau sanggahan terhadap suatu pendapat dengan memaparkan alasan-alasan yang rasional
dan logis.
Tahapan menulis karangan argumentasi, sebagai berikut.
(1) menentukan tema atau topik permasalahan,
(2) merumuskan tujuan penulisan,
(3) mengumpulkan data atau bahan berupa: bukti-bukti, fakta, atau pernyataan yang mendukung,
(4) menyusun kerangka karangan, dan
(5) mengembangkan kerangka menjadi karangan.
Contoh wacana argumentasi
Jiwa kepahlawanan harus senantiasa dipupuk dan dikembangkan karena dengan jiwa kepahlawanan. Pembangunan di negara kita dapat berjalan dengan sukses. Jiwa kepahlawanan akan berkembang menjadi nilai-nilai dan sifat kepribadian yang luhur, berjiwa besar, bertanggung jawab, berdedikasi, loyal, tangguh, dan cinta terhadap sesama. Semua sifat ini sangat dibutuhkan untuk mendukung pembangunan di berbagai bidang.

2.3  Pola Pengembangan Wacana
Ada dua pola terpenting yang lazim dipakai untuk menyusun kerangka karangan, yaitu: pola alamiah dan pola logis. Dikatakan pola almiah karena penyusun unit-unit pembahasan memakai pendekatan alamiah yang esensial, yakni ruang dan waktu. Dan dikatakan pola logis karena karena memakai pendekatan berdasarkan jalan pikiran atau cara berpikir manusia yang selalu mengamati sesuatu berdasarkan logika.

2.3.1        Pola alamiah
seperti yang telah dijelaskan di atas, penyusunan kerangka karangan yang berpola almiah meliputi keadaan yang berdimensi ruang dan waktu. Oleh karena itu, urutan unit-unit pembahasan dalam kerang pola almiah dapat dibagi dua, yaitu (1) urutan ruang, dan (2) urutan waktu.
1)      Urutan ruang
Penyajian urutan ini digunakan bagi karangan yang mempunyai pertalian sangat erat dengan ruang atau tempat. Pola uraiannya berangkat dari satu titik lalu bergerak ke tempat lain, umpamanya dari kiri ke kanan, atas ke bawah, atau depan ke belakang.
Contoh pola urutan ruang
            Topik:  Laporan Lokasi Banjir Di Indonesia
I.                    Banjir di Sumbawa
A.     Banjir di Sumbawa Besar
1.      daerah Berang Biji
2.      daerah Panto Daeng



B.     banjir di Sumbawa Barat
1.      darah  Taliwang
2.      daerah Seteluk
II.                 Banjir di …
2)      Urutan waktu
Penyajian berdasarkan urutan waktu adalah urutan yang didasarkan pada tahapan-tahapan peristiwa atau kejadian. Pola urutan waktu ini sering digunakan pada cerpen, novel, roman, kisah perjalanan, cerita sejarah, dan sebagainya.
Contoh pola urutan waktu
Topik:  Riwayat hidup Soekarno
1.      jati diri Soekarno
2.      pendidikan Soekarno
3.      karier Soekarno
4.      akhir hidup Soekarno

2.3.2        Pola logis
Dikatakan pola logis kaeran memkai pendekatan berdasarkan cara berpikir manusia. Cara berpikir ada beberapa macam dan pendekatannya berbeda-beda tergantung pada sudut panadang dan tanggapan penulis terhadapa topik yang akan ditulis. Berikut beberapa macam pola logis yang digunakan dalam mengembangkan wacana.
1)      Urutan kelimaks atau antiklimaks
Pola penyajian dimulai dari hal yang mudah/yang sederhana menuju ke hal yang makin penting atau puncak peristiwa dan sebaliknya untuk anti-klimaks.
Contoh pola urutan kelaimaks
            Topik:  Kejatuhan soeharto
I.                    Praktik KKN Merajalela
II.                 Keresahan di Tengah Masyarakat
III.               Tunutunan Reformasi Menggema
IV.              Kejatuhan Yang Tragis
2)      Urutan sebab-akibat
Pola urutan ini bermula dari topik/gagasan yang menjadi sebab berlanjut topik/gagasan yang menjadi akibat.
Contoh pola urutan sebab-akibat
Topik: Pemukiman TanahaTertinggi Terbakar
1.      kebakaran  di tanah tinggi
2.      penyebab kebakaran
3.      kerugian yang diderita
4.      rencana rehabilitasi
3)      Urutan akibat-sebab
Pola urutan ini dimulai dari pernyataan yang merupakan akibat dan dilanjutkan dengan hal-hal yang menjadi sebabnya.
4)      Urutan pemecahan masalah
Pola urutan ini bermula dari aspek-aspek yang menggambarkan masalah kemudian mengarah pada pemecahan masalah.
Contoh pola urutan pemecahan masalah

Topik:  Bahaya Estasy dan Uapaya Mengatasinya
1.      apakah ecstasy
2.      bahaya ecstasy
3.      upaya mengatasi
4.      simpulan dan saran
5)      Urutan umum ke khusus
Pola seperti ini bermula dari menggambarkan masalah secara luas/umum kemudian diperjelas dengan gamabaran yang lebih khusus lagi.
Contoh pola urutan umum ke khusus
            Topik: Komunikasi Lisan
I.                    Komunikasi Lisan Dan Bahasa
II.                 Komonikasi Liasan Dan Perangkatnya
A.     Kemampuan Kebahasaan
1.      Olah Vokal
2.      Volume dan Nada Suara
B.     Kemampuan Acting
1.      Mimik Muka
2.      Gerakan Anggota Tubuh
III.               Praktik Komonikasi Lisan…
IV.              ….
2.4  Syarat-Syarat Wacana Yang Baik
2.4.1  Kepadkuan wacana
Agar wacana menjadi baik, kita harus memperhatikan persyaratan. Persyaratan wacana yang baik yaitu adanya kepaduan, kesatuan, dan kelengkapan. Untuk mencapai kepaduan, langkah-langkah yang harus kita tempuh adalah kemampuan merangkai kalimat dan paragraf sehingga bertalian secara logis dan padu. Untuk mempertahankan kalimat dan paragaraf supaya tetap logis kita harys menggunakan kata hubung.
Terdapat dua jenis kata hubung, yaitu kata penghubung intrakalimat dan antarkalimat. Kata hubung penghubung intrakalimat adalah kata yang menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat, sedangkan kata penghubung antarkalimat adalah kata yang menghubung kalimat yang satu dengan hubung kalimat yang lain. Contoh penghubung intrakalimat yaitu karena, sehingga, tetapi, sedangkan, apabila, jika, maka, dan lain-lain. Contoh kata penghubung antarkalimat yakni oleh karena itu, jadi, kemudian, namun, selanjutnya, bahkan, dan lain-lain

2.4.2  kesatuan wacana
            Selian kepaduan, persyaratan penulian wacana yang baik adalah perinsio kesatuan. Yang dimaksud dengan perinsip kesatuan adalah tiap paragraf-paragraf sebagai penyusun wacana memiliki keterekaitan yang dibahas.
            Katerkaitan tersebut dapat dilakukan, misalnya dengan menggunakan pola pengembangan khusus ke umum. Dengan pengembangan cara ini kita mampu mejelasakan sesuatu dengan secara umum terlebih dahulu. Sebagai contoh “Dalam wacana NARKOBA” pada paragraf pertama menjelaskan pengertian narkoba, paragraf ke dua mejelaskan jenis-jenis narkoba, dan seterusnya.

2.4.3        kelengkapan paragraf
            Sebuah paragraf dikatakan lengkap apabila di dalamnya terdapat paragaraf-paragaraf yang menjadi inti dari suatu pembahasan yang diangkat dalam wacana tersebut secara lengkap untuk menunjuk pokok pikiran . Ciri-ciri paragaraf penjelas yaitu berisi penjelasan berupa rincian, keterangan, contoh, dan lain-lain. Selain itu, kalimat penjelas berarti apabila dihubungkan dengan paragaraf-pargaraf di dalam wacana. Kemudian paragaaf penjelas sering memerlukan bantuan kata penghubung, baik kata penghubung antarkalimat maupun kata penghubung intrakalimat.


BAB III
PENUTUP

3.1    Kesipulan

wacana sebagai satuan, kata wacana dalam bahasa Indonesia diguanakan untuk mengacu pada bahan bacaan dan istilah wacana mempuanyai acuan yang lebih luas dari sekedar bacaan. Pada akhir-akhir ini para ahli telah menyapakati bahwa wacana merupakan satuan bahas yang paling besar yang digunakan dalam komonikasi. Satuan bahasa di bawahnya secara bertutur-turut adalah kalimat, frase, kata, dan bunyi.
Dalam komonikasi lisan, ujaran sangat dipengaruhi oleh konteks. Oleh karena wacana lisan hanya bersifat temporer yang fana (artinya setelah diucapkan lansung hilang), penafsirannya harus melibatkan konteks ketika ujaran itu diucapkan.
Dalam membuat sebuah wacana perlu kita perhatikan tujuan dari wacana yang kita buat, yang bertujuan untuk mempermudah dalam mengembangkan bahasa yang kita gunakan. Setalah membuat tujuan tentu kita sangat mudah untuk menggolongkan kejenis wacana yang kita gunakan. Jenis wacana ada beberapa macana, antara lain; (1) deskrifsi (2)  narsi, (3) argumentasi, dan (4) eksposisi. Dan memilki pola pengembangan baik secara alamiah mapun logis.
    
3.2    Saran

Dengan adanya makalah ini, penulis mengharapkan kepada para pembaca setelah membaca, mempelajari serta memahami ihwal seleruh isi makalah ini dapat menerapkan dalam konteks berbahasa yang baik dan benar.
            Seorang pemula dalam menulis mengalami berbagai kesulitan dalam menuangkan pikirannya dalam bentuk coretan, dengan membaca makalah ini penulis mengharapkan pembaca mudah dalam menuankan pikirannya dalam bentuk tulisan.



DAFTAR  PUSTAKA

Rani Abdul, dkk. 2006. Analisis Wacana Sebuah Wacana Kajian Bahasa Dalam Pemakain. Malang: Bayumedia.
Sakri Adjat. 1992. Bangun Paragaraf Bahasa Indonesia. Bandung: ITB Bandung.
Finoza Lamuddin. 1993.Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia.
Ramlan, M. 1991. Pengelolaan Kata. Yogyakarta: CV Karyono.
http://buku-buku gratis.blogspot.com/Analisis Wacana Bahasa Indonesia.
         Diakses tgl: 31 Desember 2009.
http://buku-buku gratis.com/Pengembangan Paragaraf Lanjutan.
         Diakses tgl: 31 Desember 2009.
http://buku-buku gratis.com/Peningkatan Penulisan Paragraf Deskriptif.
         Diakses tgl: 31 Desember 2009.
http://buku-buku gratis.com/Membuat Wacana Bercorak Naratif, Deskriptif, Ekspositoris DAN Argumentatif.
            Diakses tgl: 31 Desember 2009.
http://skripsi com/Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi Dengan
Teknik Menulis Terbimbing Pada Siswa Kelas II SLTP 3 Kradenan Kecamatan Kradenan
Kabupaten Grobogan.
            Diakses tgl: 31 desember 2009.
http://skripsi com/ Peningkatan Keterampilan Menulis Paragraf Deskripsi Melalui Metode Sugesti-Imajinasi Dengan Media Lagu Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Blora.
            Diakses tgl: 31 Desember 2009.
http://skripsi com/Peningkatan Keterampilan Menulis Paragraf Deskripsi Dengan Teknik Objek Langsung Melalui Pendekatan Kontekstual Komponen Pemodelan Pada Siswa Kelas X IPS-2 SMA Negeri 1 Jekulo Kabupaten Kudus.
            Diakses tgl: 31 Desember 2009.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar